Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Ruteng, RakyatNTT.ID — Rumah Sakit (RS) Lapangan Ruteng di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai memberikan layanan medis kepada masyarakat terdampak gempa.
Salah satu tindakan pertama yang dilakukan adalah operasi pemasangan pen pada tulang paha seorang anak laki-laki berusia 11 tahun.
Operasi tersebut berlangsung pada Rabu (19/8/2026) di kamar operasi RS Lapangan yang berlokasi di Stadion Golo Dukal, Kabupaten Manggarai.
Pasien mengalami patah tulang paha akibat gempa bumi yang mengguncang NTT. Setelah mendapatkan penanganan dari tim medis, anak tersebut menjalani operasi pemasangan pen untuk membantu proses pemulihan tulangnya.
Dokter Ortopedi RSUD Dr. Soetomo Tangani Operasi
Tindakan operasi dilakukan dr. Basuki, dokter spesialis ortopedi dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Menurut dr. Basuki, keberadaan RS Lapangan Ruteng sangat membantu tenaga kesehatan dalam mempertahankan pelayanan medis, terutama tindakan operasi, ketika fasilitas kesehatan permanen terdampak bencana.
“Hari ini kami baru selesai operasi pemasangan pen di paha seorang anak usia 11 tahun yang patah akibat gempa di kamar operasi Rumah Sakit Lapangan Ruteng yang dimiliki oleh Pusat Krisis Kementerian Kesehatan,” ujar dr. Basuki.
Ia menjelaskan RS Lapangan menjadi salah satu fasilitas penting dalam kondisi pascabencana karena memungkinkan pelayanan kesehatan tetap berjalan ketika rumah sakit maupun fasilitas kesehatan lainnya mengalami kerusakan atau tidak dapat digunakan.
“Fasilitas ini sangat membantu untuk pelayanan kesehatan, terutama untuk operasi ketika rumah sakit ataupun fasilitas kesehatan yang lain terdampak gempa ataupun tidak dapat digunakan,” katanya.
Dr. Basuki berharap kondisi pasien segera membaik dan anak tersebut dapat kembali menjalani aktivitas seperti sebelum mengalami cedera.
“Semoga adik ini nanti bisa sehat kembali dan bisa menjadi pelari ulung karena dia adalah seorang anak yang suka berlari,” tutur dr. Basuki.
RS Lapangan Ruteng Dibangun Kurang dari 30 Jam
Operasi terhadap anak tersebut sekaligus menandai mulai berfungsinya RS Lapangan Ruteng yang dibangun oleh tim Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI di Stadion Golo Dukal.
Ketua Tim EMT Komposit Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI Ruteng Kabupaten Manggarai, dr. Franky Rumondor, mengatakan pembangunan fasilitas tersebut dilakukan dalam waktu relatif singkat.
Tim harus bekerja dalam kondisi cuaca dingin dan menyelesaikan pembangunan fasilitas dalam waktu kurang dari 30 jam.
“Kami membangun rumah sakit lapangan itu selama kurang lebih hampir 30 jam dini hari dengan kondisi cuaca yang dingin dan dengan 13 personel yang membangun rumah sakit lapangan ini,” ujar dr. Franky.
Sebanyak 13 personel dikerahkan Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes untuk membangun sekaligus memperkuat pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa di Kabupaten Manggarai.
Operasi Pertama jadi Penanda RS Lapangan Mulai Berfungsi
Dr. Franky mengapresiasi kerja seluruh personel yang memungkinkan RS Lapangan segera digunakan untuk pelayanan pasien.
Salah satu layanan yang telah diberikan adalah operasi terhadap pasien anak yang mengalami patah tulang paha akibat gempa.
“Hari ini kami bersyukur telah berlangsung operasi pertama di rumah sakit lapangan yang berada di Stadion Golo Dukal di Kabupaten Manggarai. Dan 13 orang ini adalah orang-orang yang hebat,” katanya.
Menurutnya, pembangunan RS Lapangan merupakan bagian dari respons cepat Kemenkes untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses layanan kesehatan ketika fasilitas kesehatan permanen mengalami gangguan akibat bencana.
“Mereka adalah orang-orang yang luar biasa yang dikirimkan oleh Pusat Krisis Kementerian Kesehatan untuk membantu masyarakat, saudara-saudara kita yang terdampak bencana di Kabupaten Manggarai,” ujar dr. Franky.
Perkuat Layanan Kesehatan Pascagempa
Dengan mulai beroperasinya RS Lapangan Ruteng, masyarakat terdampak gempa di Kabupaten Manggarai memiliki tambahan akses terhadap pelayanan kesehatan.
Fasilitas tersebut diharapkan dapat mendukung proses penanganan dan pemulihan, khususnya bagi pasien yang membutuhkan tindakan medis maupun operasi selama sejumlah fasilitas kesehatan permanen masih dalam proses pemulihan.
Operasi pemasangan pen pada anak berusia 11 tahun menjadi salah satu bukti awal bahwa pelayanan kesehatan tetap dapat berjalan di tengah situasi darurat pascagempa. (*/rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan