Pesan tersebut dinilai semakin relevan dengan tema pentahbisan, “Hamba yang Dipanggil untuk Memulihkan Kerapuhan Umat-Nya.”

Menurut Bupati, tema tersebut menggambarkan tantangan pelayanan Gereja di tengah kehidupan masyarakat saat ini.

Kerapuhan tidak hanya muncul dalam kehidupan iman, tetapi juga dapat terjadi dalam keluarga, ekonomi, relasi sosial hingga hilangnya harapan.

Karena itu, seorang hamba Tuhan tidak dipanggil untuk menghakimi mereka yang sedang rapuh. Sebaliknya, Gereja dan para pelayannya harus hadir untuk merawat, menguatkan, serta memulihkan kehidupan umat.

Sepuluh Tahap Vicariat Jadi Sekolah Kehidupan

Bupati juga mengingatkan Pendeta Benggelin agar tidak melupakan perjalanan panjang pelayanan yang telah dilalui selama masa vicariat.

Menurutnya, sepuluh tahap pelayanan yang dijalani bukan sekadar proses administratif menuju pentahbisan. Seluruh tahapan tersebut merupakan “sekolah kehidupan dan sekolah pelayanan” yang mempertemukan Pendeta Benggelin dengan berbagai karakter jemaat, konteks kehidupan, pergumulan masyarakat, dan dinamika pelayanan.

Sejumlah jemaat seperti Analingu, Wailawa, Puu Weri, Pogo Bina, Sobawawi, Wone, Waimanu, dan Tunukatega disebut menjadi bagian penting dalam perjalanan panggilan pelayanan Pendeta Benggelin.