Menurut Yohanes, penyakit tersebut telah berdampak terhadap peternakan babi di SBD sejak 2020.

“Kita ini yang virus ASF sudah melandai Kabupaten Sumba Barat Daya dari tahun 2020 sampai sekarang pun ada,” kata Yohanes.

Ia menegaskan, peternak lokal bukan semata-mata menolak pemasukan babi dari luar daerah.

Iklan

Namun, mereka khawatir risiko penyebaran penyakit kembali terjadi dan menyebabkan kerugian bagi peternak, khususnya peternak skala kecil.

Karena itu, Yohanes meminta pemerintah memperketat pengawasan terhadap setiap ternak yang masuk ke SBD.

“Jangan sampai itu tidak sesuai dengan SOP. Kalau tidak sesuai, maka bisa akan mengakibatkan fatal,” ujarnya.

Selain pengawasan lalu lintas ternak, Yohanes meminta Pemkab SBD memperkuat edukasi dan pendampingan kepada peternak lokal mengenai pencegahan ASF.

Ia berharap program pengembangan peternakan babi kembali diperkuat sehingga masyarakat memiliki kepercayaan dan keberanian untuk beternak.

Menurut Yohanes, SBD memiliki pasar ternak babi yang cukup tersedia sehingga pengembangan peternakan lokal dinilai memiliki prospek ekonomi.

Ia juga menyoroti pentingnya penerapan biosekuriti di tingkat peternak dengan dukungan tenaga teknis dan dokter hewan.

“Marilah kita sama-sama bekerja sama. Kalau bisa bantuan-bantuan atau program itu mungkin tahun yang akan datang lebih banyak pengadaan ternak babi supaya masyarakat berani beternak kembali,” katanya.