Menurut Purbaya, pengawasan laut harus dipandang sebagai bagian penting dari upaya menjaga kedaulatan ekonomi nasional.

“Pengawasan laut harus terus diperkuat melalui modernisasi sarana operasi, pemanfaatan teknologi, serta peningkatan kompetensi personel agar mampu menjawab tantangan pengawasan di wilayah perbatasan yang semakin kompleks,” ujar Purbaya.

Berhadapan dengan Timor Leste dan Australia

Secara geostrategis, wilayah pengawasan PSO Bea Cukai Kupang memiliki posisi yang sangat penting karena berhadapan langsung dengan wilayah Timor Leste serta perairan Australia.

Iklan

Kondisi tersebut membuat pengawasan terhadap aktivitas pelayaran dan perdagangan di kawasan tersebut membutuhkan kesiapan armada, personel, teknologi, serta sistem intelijen yang kuat.

Untuk mengantisipasi potensi tindak pidana kepabeanan dan cukai, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menjalankan Operasi Patroli Laut Terpadu Jaring Wallacea secara intensif.

Operasi tersebut memanfaatkan dua armada patroli utama, yakni Kapal Patroli BC 7002 dan BC 20010.

Operasi Jaring Wallacea menggunakan pendekatan berbasis analisis intelijen atau targeting untuk menentukan wilayah dan sasaran pengawasan.

Cakupan operasinya membentang luas, mulai dari Bali, Nusa Tenggara Barat, Maumere, Atapupu, hingga wilayah perairan yang berada di sepanjang garis perbatasan Indonesia–Timor Leste.

12 Kali Pemeriksaan Kapal dalam Operasi Jaring Wallacea

Meski baru beroperasi efektif dalam enam bulan terakhir, PSO Bea Cukai Kupang telah menjadi salah satu tumpuan utama pengawasan perairan di kawasan timur Indonesia.