Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Maumere, RakyatNTT.ID – Laut yang bergelombang dan cuaca kurang bersahabat tidak menyurutkan langkah Partai Rakyat Indonesia (PRI) menuju Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sebanyak delapan orang rombongan PRI menempuh perjalanan laut dari Maumere untuk membawa bantuan sekaligus menemui langsung masyarakat yang terdampak gempa.
Rombongan dipimpin Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PRI Kabupaten Sikka, Wens Wage. Mereka berangkat dari Maumere menuju Palue pada Sabtu (22/8/2026).
Perjalanan tersebut bukan hal mudah. Kondisi laut yang bergelombang dan cuaca yang kurang bersahabat menjadi tantangan tersendiri bagi rombongan.
Namun, keinginan untuk hadir di tengah masyarakat membuat mereka tetap melanjutkan perjalanan hingga tiba di Pulau Palue.
PRI Tak Sekadar Bawa Bantuan
Bagi PRI, perjalanan menuju Palue bukan semata-mata tentang menyerahkan bantuan.
Lebih dari itu, kehadiran tersebut menjadi pesan bahwa masyarakat di wilayah kepulauan yang jauh dari pusat kota dan memiliki keterbatasan akses tetap menjadi bagian penting yang tidak boleh dilupakan.
Setibanya di Palue, rombongan menyerahkan bantuan kepada masyarakat. Mereka kemudian memilih untuk tidak langsung kembali ke Maumere.
Rombongan PRI tinggal bersama warga selama dua hari untuk berinteraksi langsung, mendengar cerita masyarakat sekaligus melihat dari dekat kondisi kehidupan warga setelah bencana gempa.
Ketua DPC PRI Sikka, Wens Wage, mengatakan kehadiran mereka merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit.
“Kami datang bukan hanya untuk memberikan bantuan, tetapi juga ingin melihat dan merasakan secara langsung bagaimana kondisi masyarakat di Palue. Kami ingin masyarakat tahu bahwa mereka tidak sendiri menghadapi situasi ini,” kata Wens.
Tembus Cuaca Buruk demi Temui Warga
Menurut Wens, perjalanan menuju Palue melalui jalur laut menjadi tantangan tersendiri bagi rombongan.
Namun, kondisi alam tersebut tidak menyurutkan niat mereka untuk menemui masyarakat yang membutuhkan perhatian dan dukungan.
“Walaupun perjalanan cukup berat karena kondisi cuaca, kami tetap berusaha sampai ke Palue. Bagi kami, jarak dan kondisi alam bukan alasan untuk tidak hadir ketika masyarakat membutuhkan,” ujarnya.
Bagi masyarakat kepulauan seperti Palue, akses menjadi salah satu tantangan utama dalam penanganan bencana. Karena itu, kedatangan langsung rombongan PRI dinilai bukan hanya menghadirkan bantuan, tetapi juga memberikan dukungan moral bagi warga yang masih berusaha bangkit.
Apresiasi untuk PRI NTT
Wens juga menyampaikan apresiasi kepada Ketua DPD PRI NTT Vicoas Amalo dan istri serta seluruh jajaran PRI NTT yang dinilainya memberikan perhatian terhadap masyarakat terdampak gempa di Flores.
Perhatian tersebut, kata dia, terutama dirasakan masyarakat Kabupaten Sikka dan Pulau Palue.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Ketua DPD PRI NTT, Bapak Vicoas Amalo dan istri bersama seluruh jajaran yang sudah memberikan perhatian besar terhadap bencana gempa di Flores, khususnya di Kabupaten Sikka, terutama masyarakat di Palue,” katanya.
Menurut Wens, dukungan dari jajaran PRI NTT menjadi kekuatan bagi pengurus di daerah untuk terus hadir bersama masyarakat.
Ia berharap kepedulian tersebut tidak berhenti selama masa tanggap darurat, tetapi dapat terus berlanjut dalam proses pemulihan masyarakat.
Wens: Jangan Tinggalkan Warga setelah Tanggap Darurat
Wens menilai bantuan material memang penting bagi masyarakat terdampak bencana. Namun, perhatian dan kehadiran secara langsung juga memiliki arti besar bagi warga.
Karena itu, ia berharap masyarakat Palue tetap mendapatkan perhatian setelah masa tanggap darurat berakhir.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita tetap bersama masyarakat setelah bencana. Bantuan memang penting, tetapi kehadiran, perhatian, dan kepedulian juga sangat berarti bagi mereka,” tutur Wens.
Selama dua hari berada di Palue, rombongan PRI dan masyarakat membangun kebersamaan di tengah kondisi warga yang belum sepenuhnya pulih.
Rumah-rumah yang terdampak gempa dan kehidupan warga yang masih diliputi kekhawatiran menjadi gambaran nyata bahwa proses pemulihan membutuhkan waktu.
Di tengah situasi tersebut, kehadiran rombongan yang rela menempuh perjalanan dari seberang laut menjadi pengingat bahwa solidaritas untuk korban gempa Flores masih terus menyala.
Bagi masyarakat Palue, bantuan yang datang bukan hanya tentang apa yang dibawa, tetapi juga tentang siapa yang bersedia datang, duduk bersama, mendengar cerita mereka, dan memastikan bahwa mereka tidak menghadapi masa sulit seorang diri. (*/rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan