Kerajaan tersebut berpusat di Kauniki, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, dengan wilayah kekuasaan yang membentang hingga Miomafo serta meliputi kawasan yang kini menjadi Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), termasuk Miomafo, Insana, dan Biboki.

Berdasarkan berbagai sumber sejarah, Raja Sobe Sonbai III dikenal sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Ia tercatat sebagai satu-satunya raja di Timor yang menolak menandatangani Korte Verklaring, yakni surat pernyataan tunduk kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Untuk mempertahankan kedaulatan wilayahnya, Raja Sobe Sonbai III membangun benteng-benteng pertahanan di daerah pegunungan dan memimpin perang gerilya yang selama bertahun-tahun mampu menghambat ekspansi militer Belanda.

Pada akhir 1906, ia akhirnya ditangkap setelah pengepungan panjang, kemudian diasingkan ke Pulau Sumba hingga wafat pada 1922.

Sebagai penghormatan atas jasa dan perjuangannya, sebuah monumen ksatria berkuda didirikan di pusat Kota Kupang. Hingga kini, Raja Sobe Sonbai III terus diusulkan untuk memperoleh gelar Pahlawan Nasional karena dinilai memiliki kontribusi besar dalam perjuangan melawan penjajahan.

Gelombang Penolakan Terus Meluas

Pernyataan Paulus Tua Sonbay menambah daftar pihak yang menyatakan keberatan terhadap penobatan Jokowi sebagai Sesepuh Raja Timor.