Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Mbay, RakyatNTT.ID – Memasuki hari ke-13 setelah gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026, sejumlah warga terdampak di Kabupaten Nagekeo masih bertahan di posko-posko pengungsian.
Kondisi tersebut terutama dirasakan warga di sejumlah desa yang berada jauh dari pusat kota dan memiliki akses yang relatif sulit dijangkau.
Gempa dahsyat yang disusul isu tsunami tersebut menyebabkan kerusakan pada rumah warga dan sejumlah fasilitas umum. Tidak sedikit warga mengalami luka-luka, trauma, bahkan kehilangan anggota keluarga.
Di Kota Mbay dan wilayah sekitarnya, sebagian warga masih menempati posko pengungsian. Namun, di balik situasi tersebut, terdapat pula warga di desa-desa terpencil yang memilih bertahan di tenda pengungsian maupun mengungsi secara mandiri.
Sebagian posko menggunakan tenda bantuan bertuliskan BNPB sebagai tempat berlindung sementara karena rumah mereka mengalami kerusakan dan belum layak ditempati.
Warga Kotagana Masih Butuh Tenda dan Selimut
Kondisi warga terdampak di wilayah terpencil tersebut mendapat perhatian dari Anggota DPRD Provinsi NTT Paulinus Yohanes Nuwa Veto bersama Anggota DPRD Kabupaten Nagekeo Maria Imakulata Embula.
Keduanya didampingi Penjabat Kepala Desa Kotagana dan Bidan Desa Kotagana mendatangi langsung lokasi pengungsian warga di Desa Kotagana, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Kamis (27/8/2026).
Kunjungan tersebut tidak hanya untuk melihat kondisi pengungsi, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar masyarakat yang masih bertahan di tenda-tenda pengungsian.
Di lokasi, sejumlah warga mendapatkan pelayanan medis dari bidan desa. Pemeriksaan dan pengobatan dilakukan kepada warga yang mengalami keluhan kesehatan selama berada di pengungsian.
Namun, kebutuhan warga ternyata tidak hanya berkaitan dengan kesehatan.
Sejumlah pengungsi menyampaikan keluhan mengenai keterbatasan tenda, terpal, dan selimut yang dibutuhkan untuk menghadapi udara dingin, terutama saat malam hari.
Paulinus Salurkan Bantuan untuk Pengungsi
Mendengar keluhan tersebut, Paulinus Yohanes Nuwa Veto langsung memberikan bantuan berupa sembako, selimut, serta sejumlah kebutuhan darurat lainnya.
Meski belum seluruh permintaan warga dapat dipenuhi, Paulinus menegaskan bahwa kehadirannya di tengah pengungsi bukan sekadar untuk menyerahkan bantuan.
Ia ingin melihat secara langsung kondisi warga, mendengarkan keluhan mereka, sekaligus memberikan penguatan dan rasa nyaman kepada masyarakat yang masih berada dalam situasi sulit.
“Kehadiran kami ke sini tak sekadar memberi bantuan saja, tapi kami juga ingin menghibur, melihat, merasakan dan mendengar secara langsung apa yang mereka harapkan di situasi ini.”
Menurut Paulinus, perhatian terhadap pengungsi harus diberikan secara berkelanjutan, terutama bagi masyarakat yang berada di wilayah dengan akses sulit.
Ia mengatakan, pihaknya akan terus memantau kebutuhan pengungsi selama kondisi belum sepenuhnya pulih.
“Tentunya kami akan terus memantau setiap kebutuhan pengungsi. Dan prioritas kami lebih pada pengungsi-pengungsi yang ada di wilayah yang sulit dijangkau.”
Mantan Wakil Bupati Nagekeo tersebut juga berharap bantuan yang telah disalurkan dapat dimanfaatkan secara baik oleh warga agar kebutuhan di posko tetap terjaga dan tidak terjadi kelangkaan.
Fokus pada Pengungsi di Wilayah Sulit Dijangkau
Paulinus mengakui bantuan yang diberikan belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat terdampak.
Namun, menurutnya, kehadiran langsung di lokasi pengungsian merupakan bentuk kepedulian bahwa masyarakat tidak menghadapi bencana seorang diri.
“Yang kami salurkan ini tentunya tidak seberapa. Namun, hal ini membuktikan bahwa kami ada bersama mereka, sembari menunggu proses pemulihan dan pembangunan kembali rumah-rumah yang rusak.”
Ia menegaskan akan terus bergerak dan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat distribusi bantuan ke wilayah-wilayah terpencil.
Koordinasi juga akan melibatkan struktur partai mulai dari DPC, PAC hingga ranting untuk membantu menjangkau masyarakat yang masih membutuhkan bantuan.
Maria Embula: Melihat Anak-anak Tersenyum jadi Kebahagiaan
Sementara itu, Anggota DPRD Kabupaten Nagekeo dari Fraksi Hanura, Maria Imakulata Embula, memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan di pengungsian, mulai dari lansia hingga anak-anak.
Maria tampak berusaha menghibur warga dengan memberikan senyum dan semangat kepada para pengungsi.
Kepada anak-anak, ia meminta agar mereka tidak terus-menerus merasa panik dan takut akibat gempa susulan yang masih terjadi.
Menurut Maria, melihat anak-anak kembali tersenyum, bermain, dan tertawa menjadi tanda bahwa mereka perlahan mulai bangkit dari trauma akibat bencana.
“Melihat mereka senyum, apalagi bapak mama yang lansia itu sudah cukup. Dan anak-anak yang tertawa dan bermain saja saya bahagia sekali.”
Ia menilai keceriaan anak-anak menjadi gambaran bahwa mereka memiliki kekuatan untuk bertahan meskipun berada dalam situasi yang tidak mudah.
“Bahwa mereka telah kembali dan menjadi anak-anak yang seutuhnya. Itu yang mereka buktikan saat ini bahwa mereka kuat dan bertahan. Itulah yang mereka buktikan bahwa mereka tidak pernah sendirian.”
Pemerintah Diminta Perhatikan Kebutuhan Kelompok Rentan
Maria juga mendorong Pemerintah Daerah untuk memperkuat koordinasi dengan wilayah-wilayah terdampak melalui posko desa.
Menurutnya, keberadaan posko desa penting untuk memastikan kebutuhan masyarakat yang tidak dapat kembali ke rumah masing-masing tetap terpenuhi.
Ia menilai sejumlah kebutuhan darurat masih sangat diperlukan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan anak-anak.
Kebutuhan tersebut antara lain selimut, tenda atau terpal, popok, susu, tangki air, serta obat-obatan sesuai kondisi warga.
Pemenuhan kebutuhan tersebut dinilai penting untuk mencegah menurunnya kondisi kesehatan masyarakat selama mereka masih harus tinggal di pengungsian.
Di tengah proses pemulihan pascagempa, perhatian terhadap warga di wilayah terpencil menjadi pekerjaan penting. Sebab, ketika sebagian masyarakat mulai kembali menjalani aktivitas, masih ada warga yang belum dapat pulang karena rumah mereka rusak atau kondisi lingkungan belum dinyatakan aman.
Bagi mereka, tenda pengungsian bukan sekadar tempat berlindung sementara, tetapi menjadi rumah untuk bertahan hingga proses pemulihan benar-benar membawa mereka kembali ke kehidupan normal. (rnc15)






WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan