Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Mbay, RakyatNTT.ID – Tim Emergency Medical Team (EMT) dari Tim Bantuan Medis Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana (TBM FKKH Undana) terus memberikan layanan kesehatan bagi pengungsi dan warga terdampak gempa bumi Flores di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Operasi kemanusiaan yang dimulai sejak 23 Agustus 2026 tersebut dilakukan dengan membuka posko medis mandiri, melakukan screening terhadap pasien dengan kondisi kritis, hingga turun langsung ke sejumlah desa terpencil melalui layanan field visit.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan warga terdampak bencana, terutama kelompok rentan, tetap memperoleh akses pelayanan kesehatan meski fasilitas kesehatan di sejumlah wilayah memiliki keterbatasan operasional.
EMT Undana Bekali Relawan Sebelum Turun ke Lokasi Bencana
Sebelum diberangkatkan ke lokasi bencana, para relawan EMT TBM FKKH Undana mendapatkan pembekalan intensif.
Pembekalan First Aid dan Resusitasi Jantung Paru (RJP) dilakukan pada 19 dan 21 Agustus 2026. Tim juga mempersiapkan logistik obat-obatan bersama Dekan FKKH Undana, Satgas Undana dan PERKI NTT.
Selain itu, tim memperoleh materi kebencanaan dari HAND International yang disampaikan Mr. Inban Caldwell.
Saat melakukan perjalanan menggunakan kapal laut pada 22 Agustus 2026, para relawan juga mendapatkan pembekalan Psychological First Aid (PFA) dari Ketua IPKJI NTT, Ns. Imakulata Bete, S.Kep.
Pembekalan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan relawan mampu menghadapi kondisi lapangan sekaligus menjaga kesiapan psikologis selama menjalankan misi kemanusiaan.
Buka Posko Medis hingga Malam Hari
Setelah tiba di Pelabuhan Ende pada 23 Agustus 2026, tim langsung bergerak menuju Kabupaten Nagekeo.
Tim berkoordinasi dengan Bupati Nagekeo dan Dinas Kesehatan sebelum memulai pelayanan di lapangan.
Pada tahap awal, EMT TBM Undana melakukan screening terhadap pasien di Posko Nagekeo. Sejumlah pengungsi ditemukan mengalami keluhan sesak napas dan lemas sehingga langsung dikoordinasikan untuk mendapatkan penanganan.
Melihat pos kesehatan terdekat telah tutup pada sore hari, tim kemudian mendirikan posko medis mandiri pada malam hari dengan dukungan fasilitas dari BNI Berbagi.
Posko tersebut beroperasi hingga pukul 22.30 WITA dan melayani warga pengungsian maupun petugas BNPB daerah yang mengalami demam dan kelelahan setelah menjalankan tugas penanganan bencana.
Ratusan Warga Mendapat Layanan Kesehatan
Selain membuka posko, tim EMT TBM FKKH Undana melakukan field visit ke sejumlah wilayah untuk menjangkau warga yang sulit mengakses fasilitas kesehatan.
Pada 23 Agustus 2026, tim menangani 40 pasien rawat jalan di Desa Marapokot, terdiri dari 19 laki-laki dan 21 perempuan.
Berdasarkan kelompok usia, pasien tersebut terdiri atas lima anak-anak, 31 dewasa dan empat lansia.
Pelayanan kemudian dilanjutkan pada sejumlah lokasi. Di Desa Rendu Teno, tim menangani 14 pasien, sementara di Desa Wajomara terdapat 61 pasien yang mendapatkan pelayanan.
Tim juga memberikan layanan kepada satu pasien di Desa Lengadawa dan 14 pasien di Pos Lapangan Berdikari Danga.
Dengan pola pelayanan tersebut, EMT TBM Undana berupaya mendekatkan layanan kesehatan langsung ke titik pemukiman dan penampungan warga.
ISPA dan Gangguan Pencernaan Dominasi Keluhan Warga
Dari hasil rekapitulasi pelayanan medis, sejumlah penyakit menjadi keluhan yang paling banyak ditemukan di lokasi terdampak gempa.
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi salah satu keluhan dominan dengan 17 pasien. Selain itu, terdapat 11 pasien mengalami gangguan saluran pencernaan atau GI track dan 10 pasien mengalami nyeri otot.
Keluhan headache dan low back pain masing-masing ditemukan pada lima pasien.
Sementara itu, hipertensi dan general weakness masing-masing tercatat empat pasien.
Tim juga menangani dua pasien dengan luka infeksi atau vulnus serta dua pasien dengan alergi. Keluhan lainnya meliputi infeksi kulit, gangguan gigi dan infeksi saluran kemih (ISK).
Dalam kunjungan ke Desa Wajomara, tim juga menemukan persoalan lain yang berpengaruh terhadap kesehatan warga, yakni keterbatasan air bersih.
Stok Obat Sempat Menipis
Tingginya kebutuhan pelayanan medis sempat menyebabkan stok obat-obatan tim menipis.
Namun, kondisi tersebut dapat diatasi setelah pasokan logistik tambahan tiba di Kabupaten Nagekeo pada 24 Agustus 2026.
Tambahan logistik tersebut membuat pelayanan kesehatan dapat terus berjalan untuk menjangkau warga terdampak gempa di sejumlah lokasi.
Pada 25 Agustus 2026, tim juga melakukan peninjauan langsung ke RSUD Aeramo bersama perwakilan Kementerian Kesehatan RI dan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN) NTT.
Ketua Tim EMT Undana, dr. Deif Tunggal, Sp.An-TI, mengatakan tim sejak tiba di lokasi langsung memprioritaskan pencarian dan penanganan pasien kritis.
“Tiba di lokasi, kami langsung screening mencari pasien kritis. Karena stok awal sempat menipis akibat tingginya kebutuhan, tambahan logistik obat yang tiba pada 24 Agustus sangat menyokong pelayanan berkelanjutan,” ujar dr. Deif.
Tim Multidisiplin Turun ke Lokasi Pengungsian
Pelayanan kesehatan tersebut diperkuat personel multidisiplin yang dipimpin dr. Deif Tunggal, Sp.An-TI dari FKKH Undana.
Tim juga melibatkan dokter alumni FKKH Undana, yakni dr. Joseph Alessandro Putra Lamanepa dan dr. Andrie Suryanta.
Selain itu, terdapat perwakilan IDI dan Polri, dr. Melissa Putri M. Napitupulu, M.K.M. dan dr. Josef Satrida Y. Maan.
Lima mahasiswa FKKH Undana turut dilibatkan, yakni Agnes Noni Samara, Maria Manuelita Febriyanti Toda, Marlena Gracella F. V. Nura Lele, Maria Natasya Thoma dan Monica Lerrick.
Dua perawat dari Kementerian Hukum, Rosydah Idris, S.Kep. dan Ns. Valendro Rohi Riwu, S.Kep., juga memperkuat tim di lapangan.
EMT Undana Siapkan Layanan Lanjutan
Pelayanan kesehatan tidak berhenti pada posko dan kunjungan yang telah dilakukan.
Tim EMT Undana menjadwalkan penjangkauan medis lanjutan ke Desa Wajomara, Rendu Teno dan Wajomae.
Bersama tim Lembaga Ibu dan Anak yang diwakili Edy dan Eka, sebanyak 13 personel akan diterjunkan untuk menyisir kawasan pemukiman yang masing-masing dihuni sekitar 140 jiwa.
Langkah tersebut menjadi penting karena warga di sejumlah desa masih menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan pascagempa.
Dengan membuka posko medis pada malam hari, memperkuat pasokan obat-obatan dan mendatangi langsung pemukiman warga, EMT TBM FKKH Undana berupaya memutus keterbatasan layanan kesehatan di wilayah terdampak.
Pelayanan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mencegah memburuknya kondisi kesehatan warga pengungsian, termasuk risiko penyakit pernapasan dan gangguan pencernaan yang dapat meningkat di tengah kondisi pascabencana.
Bagi warga terdampak gempa Flores, kehadiran tim medis yang langsung mendatangi desa menjadi dukungan penting untuk memastikan kebutuhan kesehatan tetap terpenuhi di tengah proses pemulihan. (*/rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan