Seba, RakyatNTT.ID – Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua terus memperkuat upaya peningkatan mutu pendidikan melalui pengelolaan sekolah yang lebih baik, peningkatan kualitas pembelajaran, serta penguatan pencapaian hasil belajar peserta didik.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi sekolah penerima BOSKINERJA Tahun 2026 yang secara resmi dibuka pada Senin, 24 Agustus 2026.

Pada 2026, sebanyak 17 satuan pendidikan di Kabupaten Sabu Raijua menerima BOSKINERJA. Untuk memudahkan koordinasi, pembinaan, pendampingan, monitoring, dan evaluasi, seluruh sekolah penerima program tersebut dibagi ke dalam empat gugus.

Iklan

Dalam kegiatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua memberikan apresiasi kepada empat satuan pendidikan penerima BOSKIN Terbaik Tahun 2026 yang tergabung dalam Gugus I.

Keempat satuan pendidikan tersebut terdiri atas dua jenjang PAUD, yakni PAUD Loborui dan PAUD Tunas Baru, satu jenjang sekolah dasar yaitu UPTD SDI Ledeana, serta satu satuan pendidikan nonformal melalui Sanggar Kegiatan Belajar (SKB).

BOSKIN Terbaik Diminta jadi Inspirasi Sekolah Lain

Wakil Bupati Sabu Raijua menegaskan, predikat BOSKIN Terbaik bukanlah akhir dari sebuah proses. Sebaliknya, penghargaan tersebut menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk menjadi contoh bagi satuan pendidikan lainnya.

“Sekolah yang mendapatkan predikat terbaik harus mampu menjadi contoh dan memberikan inspirasi bagi satuan pendidikan lainnya. Keberhasilan yang telah dicapai harus dilanjutkan dengan praktik-praktik baik yang dapat diterapkan, dikembangkan dan dibagikan kepada sekolah-sekolah lain di Kabupaten Sabu Raijua,” tegasnya.

Menurutnya, pelaksanaan Bimtek BOSKINERJA tidak boleh berhenti pada pemahaman teori maupun pemenuhan aspek administratif. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama kegiatan harus diterapkan secara nyata di masing-masing satuan pendidikan.

Ia juga menekankan pentingnya penerapan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) sebagai budaya kerja di lingkungan sekolah.

SPMI, kata dia, tidak boleh hanya dipandang sebagai dokumen atau instrumen administratif. Sistem tersebut harus menjadi proses berkelanjutan untuk mengidentifikasi persoalan, menyusun rencana perbaikan, melaksanakan program, mengevaluasi hasil, serta menindaklanjuti temuan evaluasi.

“Peningkatan mutu tidak dilakukan hanya ketika ada penilaian atau monitoring dari pihak luar, tetapi harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sekolah,” ujarnya.

Empat Sekolah Didorong Menjadi Sekolah Model

Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua berharap empat satuan pendidikan penerima BOSKIN Terbaik Tahun 2026 dapat berkembang menjadi sekolah model dalam penerapan budaya mutu.

Para peserta Bimtek juga didorong menyusun rencana tindak lanjut yang jelas setelah kegiatan. Rencana tersebut mencakup hal-hal yang perlu diperbaiki, langkah yang akan dilakukan, pihak yang terlibat, waktu pelaksanaan, hingga indikator keberhasilan.

Pemkab Sabu Raijua turut memberikan apresiasi kepada para Pengawas Pembina yang terlibat sebagai narasumber sekaligus pendamping sekolah.

Pengawas diharapkan tidak hanya menjalankan fungsi pengawasan, tetapi juga menjadi mitra strategis sekolah dalam mendorong peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan.

Materi BOSKINERJA Fokus pada Kebutuhan Sekolah

Berdasarkan laporan penyelenggaraan kegiatan, pelaksanaan BOSKINERJA Tahun 2026 dilakukan melalui koordinasi, pembinaan, pendampingan, monitoring, dan evaluasi terhadap sekolah penerima.

Materi yang diberikan meliputi pemahaman kebijakan BOSKINERJA, perencanaan program berbasis kebutuhan sekolah, pemanfaatan data Rapor Pendidikan, penguatan literasi dan numerasi, pengelolaan serta pertanggungjawaban program, monitoring dan evaluasi, hingga penyusunan rencana tindak lanjut.

Pelaksanaan kegiatan tersebut menghasilkan sejumlah capaian. Di antaranya meningkatnya pemahaman sekolah mengenai BOSKINERJA, teridentifikasinya kebutuhan dan kendala masing-masing sekolah, serta meningkatnya koordinasi antara sekolah, pengawas, dan Dinas Pendidikan.

Selain itu, terbentuk kolaborasi antarsekolah melalui empat gugus. Berbagai praktik baik juga berhasil diidentifikasi untuk dikembangkan dan dibagikan kepada satuan pendidikan lainnya.

Kegiatan tersebut sekaligus menghasilkan rencana tindak lanjut guna memastikan keberlanjutan program peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Sabu Raijua.

Monitoring 17 Sekolah Akan Dilakukan Berkala

Ke depan, Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Sabu Raijua akan melakukan monitoring dan pendampingan secara berkala terhadap 17 sekolah penerima BOSKINERJA.

Koordinasi melalui empat gugus juga akan diperkuat. Pemanfaatan program diarahkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, terutama dalam penguatan kemampuan literasi dan numerasi peserta didik.

Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, Dinas Pendidikan, pengawas, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, orang tua, hingga masyarakat.

“Mutu pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.

Melalui Bimtek BOSKIN Terbaik Tahun 2026, Pemkab Sabu Raijua berharap lahir semakin banyak praktik baik yang dapat direplikasi oleh satuan pendidikan lainnya. Langkah tersebut diharapkan memperkuat budaya mutu sekaligus mendorong peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Sabu Raijua secara berkelanjutan. (*/rnc)