Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Kupang, RakyatNTT.ID – Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Nusa Cendana (Undana) terus memperkuat kualitas pendidikan melalui pembaruan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang berorientasi pada Sustainable Development Goals (SDGs).
Langkah tersebut diwujudkan melalui Workshop Kurikulum Berbasis OBE dan Berorientasi SDGs yang digelar di Aula Gedung Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Undana, Rabu (12/8/2026).
Workshop menghadirkan Dr. Ir. Mais Ilsan, M.P. sebagai narasumber utama. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi Prodi Agroteknologi untuk menyelaraskan kurikulum dengan perkembangan industri pertanian modern, kebutuhan dunia kerja, serta tantangan global di sektor pertanian.
Selain itu, pembaruan kurikulum menjadi bagian penting dalam memantapkan persiapan menuju akreditasi Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Ilmu Pertanian (LAMPTIP).
Diawali FGD Visi, Misi dan Kurikulum
Rangkaian pembaruan kurikulum tersebut telah dimulai sehari sebelumnya melalui Focus Group Discussion (FGD) Peninjauan Visi, Misi dan Kurikulum pada Selasa (11/8/2026).
FGD melibatkan pimpinan fakultas, alumni dan stakeholder untuk mendapatkan masukan mengenai arah pengembangan pendidikan Agroteknologi agar semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
Workshop selanjutnya diikuti jajaran pimpinan fakultas, pengelola program studi hingga dosen pengampu mata kuliah.
Dekan Fakultas Pertanian Undana, Dr. Tomycho Olviana, S.P., M.M.A., menegaskan dukungan penuh fakultas terhadap transformasi kurikulum tersebut.
“Pengembangan dan pembenahan kurikulum berbasis OBE ini sangat krusial bagi Fakultas Pertanian guna memastikan proses pembelajaran yang relevan, adaptif, serta selaras dengan standar mutu nasional dan kebutuhan dunia kerja,” tegas Tomycho.
Kurikulum Harus Menjawab Tantangan Pertanian
Koordinator Prodi Agroteknologi, Yasinta Letek Kleden, S.P., M.Sc., mengatakan pembaruan kurikulum diperlukan karena tantangan sektor pertanian terus mengalami perubahan.
Menurutnya, isu ketahanan pangan, perubahan iklim dan pertanian berkelanjutan membutuhkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai perkembangan zaman.
“Tantangan pertanian saat ini sudah berubah, mulai dari isu ketahanan pangan, perubahan iklim, hingga pertanian berkelanjutan, sehingga kurikulum kita pun harus mampu menjawab tantangan tersebut,” ujar Yasinta.
Dengan pendekatan OBE, proses pembelajaran diarahkan pada capaian kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa setelah menyelesaikan pendidikan.
Dosen Didorong Seragamkan RPS Berbasis OBE
Dalam workshop tersebut, Dr. Ir. Mais Ilsan, M.P., memaparkan kebijakan pengembangan kurikulum berbasis OBE serta strategi mengintegrasikan indikator SDGs ke dalam Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL).
Ia juga menekankan pentingnya keseragaman format Rencana Pembelajaran Semester (RPS) berbasis OBE pada seluruh mata kuliah.
Keseragaman tersebut dinilai penting untuk memastikan setiap mata kuliah memiliki keterkaitan yang jelas antara materi pembelajaran, capaian pembelajaran, metode pengajaran dan kompetensi lulusan.
Syarat Akreditasi Unggul Jadi Perhatian
Selain membahas teknis penyusunan kurikulum, Mais Ilsan juga memaparkan sejumlah indikator yang perlu dipenuhi Prodi Agroteknologi untuk mencapai kriteria Akreditasi Unggul.
Beberapa aspek yang menjadi perhatian antara lain penerapan siklus Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan (PPEPP), standar kelayakan laboratorium, laporan kinerja laboratorium hingga persentase kelulusan tepat waktu.
“Untuk mencapai kriteria unggul, kita harus fokus pada keseragaman konsep outcome-based education dan pemenuhan syarat utama akreditasi, termasuk optimalisasi tracer study serta kualifikasi Dosen Tetap Program Studi (DTPS),” jelas Mais.
Menurutnya, kesiapan dokumen dan implementasi sistem penjaminan mutu harus berjalan seiring agar target akreditasi tidak hanya terpenuhi secara administratif, tetapi juga tercermin dalam kualitas proses pembelajaran.
Manfaatkan AI untuk Penyusunan RPS
Workshop tersebut tidak hanya membahas konsep, tetapi juga memberikan pendampingan langsung kepada dosen dalam melakukan revisi perangkat pembelajaran.
Para dosen mendapatkan pendampingan untuk menyempurnakan CPL, CPMK, hingga Sub-CPMK agar selaras dengan pendekatan OBE.
Selain itu, teknologi Artificial Intelligence (AI) mulai diperkenalkan sebagai salah satu alat yang dapat membantu mempercepat proses penyusunan RPS dan Standar Operasional Prosedur (SOP) laboratorium.
Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan tetap ditempatkan sebagai alat bantu bagi dosen, sementara substansi akademik dan validasi tetap menjadi tanggung jawab sivitas akademika.
Bidik Lulusan Adaptif dan Berdaya Saing
Melalui pembaruan kurikulum berbasis OBE dan integrasi SDGs, Prodi Agroteknologi Faperta Undana optimistis dapat menghasilkan lulusan yang lebih adaptif terhadap perubahan sektor pertanian.
Kurikulum baru diharapkan mampu memperkuat kompetensi mahasiswa dalam menghadapi persoalan ketahanan pangan, perubahan iklim, teknologi pertanian modern dan pembangunan pertanian berkelanjutan.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi Prodi Agroteknologi Faperta Undana dalam memantapkan kesiapan menghadapi proses akreditasi LAMPTIP dan mengejar predikat Akreditasi Unggul.
Dengan kolaborasi antara pimpinan, dosen, alumni dan stakeholder, pembaruan kurikulum diharapkan tidak berhenti pada perubahan dokumen, tetapi benar-benar menghasilkan proses pembelajaran yang relevan dan lulusan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan pertanian. (*/rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan