Menurutnya, gereja tidak hanya dipanggil untuk memberikan pelayanan spiritual, tetapi juga harus hadir menjawab persoalan nyata yang dihadapi jemaat, termasuk kemiskinan, persoalan ekonomi, dan ketahanan pangan.

“Pemberdayaan ekonomi yang dilakukan oleh gereja harus berakar kuat pada nilai-nilai spiritualitas. Pendekatan ini membedakan peran gereja dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) lainnya atau paham teologi kemakmuran,” tegas Pdt. Lay.

Ia menjelaskan, pemberdayaan ekonomi jemaat tidak dimaksudkan untuk membawa gereja pada orientasi kapitalisme atau menjadikan keberhasilan ekonomi sebagai ukuran utama kehidupan iman.

Iklan

Sebaliknya, pemberdayaan diarahkan untuk membangun daya tahan jemaat agar mampu menghadapi kemiskinan, mengembangkan potensi lokal, dan secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap bantuan dari luar.

Dengan pendekatan tersebut, gereja diharapkan dapat menjadi komunitas yang mampu mengembangkan potensi lokal sekaligus menumbuhkan semangat gotong royong, tanggung jawab, kreativitas, dan kemandirian ekonomi.

Vikaris Dibekali Spiritualitas hingga Keterampilan Praktis

Selama lima hari pelatihan, para vikaris memperoleh pembekalan dalam tiga aspek utama, yakni spiritualitas pelayanan, kecakapan manajemen, dan keterampilan pemberdayaan masyarakat.