Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jakarta, RakyatNTT.ID – Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Jumat (17/7/2026).
Mata uang Garuda naik 65 poin atau sekitar 0,36 persen ke posisi Rp17.921 per dolar AS, didukung kombinasi sentimen global dan membaiknya indikator ekonomi domestik.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi oleh dinamika geopolitik di Timur Tengah yang kembali memicu pergerakan pasar keuangan global.
Menurut Ibrahim, serangan terbaru Amerika Serikat terhadap Iran memperpanjang ketegangan kawasan yang telah berlangsung hingga bulan kelima. Kondisi tersebut mendorong harga minyak dunia tetap tinggi sekaligus memunculkan kembali kekhawatiran terhadap inflasi global.
“Permusuhan yang berlanjut menjaga harga minyak mentah tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi akibat kenaikan biaya energi,” ujar Ibrahim dalam risetnya.
Situasi semakin memanas setelah Iran membalas serangan tersebut dengan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di negara-negara sekitar, termasuk pangkalan udara di Yordania.
Di sisi lain, laporan Reuters menyebutkan pemerintah Iran juga telah memberi arahan kepada kelompok Houthi untuk bersiap menutup jalur pelayaran minyak di Laut Merah apabila AS menyerang infrastruktur kelistrikan Iran. Ancaman tersebut memperbesar kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia.
Harga Minyak Tinggi jadi Tantangan The Fed
Kenaikan harga minyak dipandang dapat mempersulit langkah Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Meskipun data inflasi konsumen dan produsen AS yang dirilis pekan ini menunjukkan tekanan harga mulai mereda, pelaku pasar lebih fokus pada risiko inflasi baru akibat lonjakan harga energi.
Pejabat Federal Reserve juga masih menegaskan bahwa risiko inflasi belum sepenuhnya hilang. Bank sentral AS membutuhkan beberapa bulan lagi data inflasi yang konsisten rendah sebelum mempertimbangkan penurunan suku bunga acuan.
Aktivitas Dunia Usaha Indonesia Meningkat
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari rilis Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia yang menunjukkan aktivitas ekonomi nasional terus membaik sepanjang kuartal II 2026.
Bank Indonesia mencatat Saldo Bersih Tertimbang (SBT) mencapai 12,97 persen, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 10,11 persen.
Peningkatan tersebut terutama didorong oleh membaiknya kinerja sektor:
- Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan.
- Konstruksi.
- Pertambangan dan Penggalian.
- Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum yang terdorong momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) serta musim liburan sekolah.
Sejalan dengan itu, kapasitas produksi terpakai juga meningkat menjadi 73,8 persen, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya yang berada di 73,33 persen.
Selain aktivitas produksi yang meningkat, kondisi keuangan dunia usaha juga dinilai tetap sehat. Likuiditas, tingkat keuntungan (rentabilitas), serta akses pembiayaan perbankan masih berada dalam kondisi yang baik.
Aktivitas Usaha Diperkirakan Sedikit Melambat
Memasuki kuartal III 2026, Bank Indonesia memperkirakan aktivitas dunia usaha masih akan tumbuh meski sedikit melambat.
SBT diproyeksikan berada di level 11,75 persen, dengan pertumbuhan diperkirakan berasal dari sektor industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, reparasi kendaraan bermotor, konstruksi, serta pertambangan yang didukung penurunan curah hujan.
Sementara itu, Prompt Manufacturing Index (PMI) Bank Indonesia tercatat sebesar 51,43 persen pada kuartal II 2026, sedikit turun dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 52,03 persen.
Meski demikian, angka tersebut masih berada di atas level ekspansi 50 persen. Kinerja industri pengolahan tetap ditopang oleh kenaikan volume produksi, persediaan barang jadi, dan total pesanan.
Proyeksi Rupiah
Berdasarkan perkembangan sentimen global dan domestik tersebut, Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah masih akan bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya.
Untuk perdagangan harian, rupiah diproyeksikan berada pada kisaran Rp17.870 hingga Rp17.930 per dolar AS. Sementara sepanjang pekan depan, pergerakan rupiah diperkirakan berada dalam rentang Rp17.750 hingga Rp18.050 per dolar AS, seiring pelaku pasar terus mencermati perkembangan konflik Timur Tengah, harga minyak dunia, serta arah kebijakan Federal Reserve. (*/rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan