Eskalasi konflik tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia.

Selain itu, sejumlah perusahaan asuransi pelayaran dikabarkan mulai meminta operator kapal menunda pelayaran melalui kawasan tersebut akibat meningkatnya risiko keamanan.

Sikap The Fed Picu Kekhawatiran Pasar

Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati hasil risalah rapat Federal Reserve (The Fed) bulan Juni yang menunjukkan bank sentral Amerika Serikat masih terbagi dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Menurut Ibrahim, risalah tersebut memperlihatkan meningkatnya kekhawatiran para pejabat The Fed terhadap inflasi yang masih bertahan tinggi.

Kondisi itu membuka peluang kenaikan suku bunga kembali apabila tekanan inflasi belum mereda hingga akhir tahun.

Inflasi Amerika Serikat sendiri disebut meningkat sejak konflik AS-Iran pecah pada akhir Februari, sehingga target inflasi tahunan sebesar 2 persen masih sulit dicapai.

APBN 2026 dan Belanja Pemerintah jadi Sorotan

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai percepatan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Semester I 2026 juga menjadi salah satu sentimen yang memengaruhi pergerakan pasar.