Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Masukan tersebut dinilai menjadi bahan penting dalam mendorong kebijakan dan praktik penanggulangan bencana yang lebih responsif terhadap kebutuhan kelompok rentan.
Materi yang diberikan meliputi pengenalan berbagai potensi bencana di Kabupaten Rote Ndao, langkah-langkah kesiapsiagaan sebelum bencana, tindakan yang harus dilakukan saat terjadi bencana, hingga upaya pemulihan pascabencana.
Peserta juga diperkenalkan dengan pentingnya menyiapkan Tas Siaga Bencana, mengenali jalur evakuasi dan titik kumpul, menyusun rencana evakuasi bersama keluarga, serta membangun komunikasi yang efektif antara penyandang disabilitas, keluarga, masyarakat, relawan, dan petugas penanggulangan bencana.
Salah satu mahasiswa penyelenggara, Maurits R.L. Sjioen, mengatakan penyandang disabilitas merupakan kelompok yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi terhadap dampak bencana apabila kebutuhan aksesibilitas dan dukungan khusus tidak diperhatikan.
Menurutnya, upaya pengurangan risiko bencana harus dilaksanakan dengan menerapkan prinsip inklusif sehingga seluruh masyarakat memperoleh kesempatan yang sama dalam mengakses informasi, perlindungan, dan layanan kebencanaan.
“Melalui kegiatan Bincang Santai ini, kami berharap penyandang disabilitas semakin siap menghadapi situasi bencana, sementara masyarakat semakin memahami pentingnya memberikan dukungan dan perlindungan kepada kelompok rentan. Kesiapsiagaan bukan hanya tentang menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal (Leave No One Behind) dalam setiap upaya penanggulangan bencana,” ujar Maurits.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan