Maumere, RakyatNTT.ID – Penantian panjang warga Dusun Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk menikmati air bersih akhirnya terwujud.

Setelah puluhan tahun hidup dalam keterbatasan air bersih, sebanyak 90 kepala keluarga (KK) kini dapat menikmati aliran air berkat semangat gotong royong masyarakat yang diprakarsai Anggota DPRD Kabupaten Sikka dari Partai Perindo, Yuslin Nursivin Dua Botha, bersama para tokoh masyarakat.

Keberhasilan menghadirkan jaringan air bersih ini menjadi bukti bahwa kolaborasi masyarakat mampu menghadirkan solusi di tengah keterbatasan anggaran pemerintah.

Iklan

Pokir Gagal karena Defisit Anggaran, Swadaya jadi Solusi

Yuslin mengungkapkan, kebutuhan air bersih bagi warga Dusun Rotat sebenarnya telah diperjuangkan melalui Pokok Pikiran (Pokir) DPRD agar masuk dalam APBD Kabupaten Sikka Tahun Anggaran 2026. Namun, rencana tersebut belum dapat direalisasikan karena kondisi fiskal daerah yang sedang mengalami defisit.

Meski demikian, ia memilih tidak berhenti pada kendala anggaran dan mencari alternatif agar kebutuhan dasar masyarakat tetap dapat dipenuhi.

“Daerah kita memang sedang mengalami keterbatasan fiskal yang luar biasa. Tetapi bagi saya, itu bukan alasan untuk tidak melayani masyarakat. Berkat orang-orang baik dan gerakan swadaya, apa yang dirindukan warga sekian lama akhirnya terwujud,” ujar Yuslin, Jumat (24/7/2026).

Air Bersih Mengalir untuk 90 Kepala Keluarga

Kini, sebanyak 90 kepala keluarga di Dusun Rotat menikmati pasokan air bersih yang dialirkan dari 11 titik mata air Koja di kebun milik tokoh masyarakat Suitbertus Amandus di Nilo, Desa Wuliwutik.

Air tersebut dialirkan melalui jaringan pipa sepanjang kurang lebih tiga kilometer hingga mencapai permukiman warga. Aliran air mulai dinikmati masyarakat sejak sehari sebelumnya.

Menariknya, seluruh pembangunan jaringan air bersih ini dilakukan tanpa menggunakan dana APBD Kabupaten Sikka.

Pipa dibeli secara swadaya oleh masyarakat dengan dukungan tokoh masyarakat Yakobus Jano, sementara Yuslin aktif mendampingi proses mulai dari penarikan jaringan hingga air benar-benar mengalir ke rumah-rumah warga.

Berawal dari Aspirasi Warga saat Reses

Perjuangan menghadirkan air bersih bermula saat Yuslin melaksanakan reses pertamanya pada Desember 2024. Dalam pertemuan tersebut, warga mengeluhkan sulitnya memperoleh air bersih meski Dusun Rotat berada di kawasan penyangga Mata Air Wair Puan, sumber air yang selama ini memasok kebutuhan masyarakat Kota Maumere.

Menurut Yuslin, kondisi tersebut menjadi ironi karena masyarakat yang menjaga kawasan sumber air justru belum menikmati akses air bersih yang layak.

“Masyarakat mengungkapkan kerinduan mereka untuk menikmati air bersih yang adil seperti warga Sikka lainnya. Rotat ini penjaga Wair Puan, mata air yang dialirkan untuk masyarakat wilayah Kota Maumere,” tuturnya.

Tokoh Masyarakat Hibahkan Sumber Air demi Warga

Setelah usulan melalui Pokir tidak dapat direalisasikan, Yuslin kemudian mencari solusi lain. Upaya itu membuahkan hasil setelah tokoh masyarakat Suitbertus Amandus bersedia menghibahkan akses terhadap 11 titik mata air Koja demi kepentingan masyarakat Dusun Rotat.

“Karena Pokir tidak bisa direalisasikan, saya mencari cara lain dan mendapatkan 11 mata air dari Bapak Suitbertus Amandus. Beliau ikhlas mengalirkan air demi warga Dusun Rotat. Ini akan menjadi warisan indah untuk generasi-generasi Rotat yang akan datang,” ungkapnya.

Gotong Royong jadi Kekuatan Utama

Yuslin memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh warga yang terlibat dalam pembangunan jaringan air bersih, terutama kaum perempuan yang turut mengangkat pipa besi melewati bukit dan sungai demi mewujudkan impian bersama.

Baginya, keberhasilan proyek tersebut menjadi contoh nyata bahwa budaya gotong royong masih hidup di tengah masyarakat.

“Kisah air minum Rotat ini membuktikan semangat gotong royong itu nyata. Mama-mama turun dengan segenap kekuatan mereka. Kerja keras ini adalah bukti cinta untuk keluarga,” ujar legislator berusia 42 tahun itu.

Warga: Kini Kami Merdeka dari Krisis Air

Kehadiran air bersih disambut penuh haru oleh masyarakat. Salah seorang warga, Mama Maria, mengaku bersyukur karena keluarganya tidak lagi bergantung pada pasokan air tangki yang selama ini menguras pengeluaran rumah tangga.

Sebelumnya, ia harus mengeluarkan sekitar Rp400 ribu setiap bulan untuk membeli dua tangki air bersih.

Kini, beban tersebut telah berakhir setelah air mengalir langsung ke Dusun Rotat.

“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Amandus yang sudah merelakan kami menarik air dari Nilo secara gratis dan Ibu Yuslin yang sudah berjuang bersama kami hingga air bersih bisa masuk Rotat hari ini. Sekarang kami sudah merdeka dari krisis air,” ujar Mama Maria.

Keberhasilan menghadirkan air bersih di Dusun Rotat menjadi bukti bahwa keterbatasan anggaran bukan penghalang untuk mewujudkan pelayanan kepada masyarakat.

Kolaborasi antara warga, tokoh masyarakat, dan wakil rakyat berhasil mengakhiri krisis air bersih yang telah berlangsung selama puluhan tahun sekaligus menghadirkan harapan baru bagi generasi mendatang di Kabupaten Sikka. (*/rnc)