Kalau rakyat Semau tidak menjadi penerima manfaat utama, maka proyek ini tidak lebih dari pertunjukan kekuasaan. Rakyat dipakai sebagai alasan. Iman dipakai sebagai baju. Pariwisata dipakai sebagai janji. APBD dipakai sebagai bahan bakar.

Sementara itu, warga tetap menunggu hal-hal yang sangat sederhana. Air mengalir. Jalan bisa dilewati. Harga rumput laut tidak mencekik. Anak-anak bisa sekolah tanpa rasa kalah. Orang sakit bisa berobat tanpa takut biaya dan jarak. Negara hadir bukan dalam bentuk patung raksasa, tetapi dalam bentuk hidup yang sedikit lebih manusiawi.

Jadi, sebelum patung itu menjulang, bupati sebaiknya menunduk. Lihat tanah Semau. Lihat debunya. Lihat warga yang memikul air. Lihat petani rumput laut yang nasibnya tidak pernah masuk baliho. Lihat anak-anak yang hidupnya tidak akan berubah hanya karena ada monumen besar di atas bukit.

Iklan

Patung itu mungkin kelak berdiri megah. Orang mungkin datang berfoto. Pejabat mungkin berpidato. Drone mungkin terbang mengitari beton raksasa itu.

Tetapi jika rakyat Semau tetap miskin, tetap haus, tetap terisolasi, maka patung itu bukan ikon rohani. Ia adalah ironi. Sebuah berhala baru yang berdiri di atas air mata rakyatnya sendiri. (*)