Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Rakyat miskin memang tidak fotogenik. Itu masalahnya.
Murray Edelman sudah lama mengingatkan bahwa politik bekerja melalui simbol. Simbol membuat kekuasaan tampak hadir. Tampak peduli. Tampak bekerja. Padahal belum tentu menyentuh dapur warga. Patung Semau adalah contoh yang hampir sempurna. Ia tinggi. Ia emosional. Ia disakralkan. Ia sulit dikritik.
Dan di situlah bahayanya.
Begitu orang mengkritik anggaran patung, para pembela kekuasaan bisa segera memainkan jurus lama: ini serangan terhadap iman. Ini antiagama. Ini tidak menghargai umat. Ini tidak mendukung pembangunan rohani.
Omong kosong.
Kritik terhadap APBD bukan kritik terhadap Tuhan. Kritik terhadap bupati bukan penghinaan terhadap iman. Kritik terhadap patung bukan kebencian terhadap umat. Yang sedang digugat adalah kewarasan negara dalam mengelola uang publik.
Justru karena proyek ini memakai simbol suci, kritik harus lebih keras. Agama terlalu luhur untuk dijadikan tameng proyek. Tuhan tidak membutuhkan beton APBD. Yang membutuhkan negara adalah manusia Semau yang masih menunggu air, jalan, layanan kesehatan, sekolah yang layak, dan ekonomi yang tidak dibiarkan berjalan sendirian.
Harold Lasswell bilang, politik adalah soal siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana. Rumusnya sederhana. Tidak perlu dibuat rumit. Dalam kasus Semau, pertanyaannya begini: siapa
mendapat proyek? Siapa mendapat panggung? Siapa mendapat keuntungan? Dan siapa hanya menjadi latar belakang seremoni?





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan