Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Luas tambak terus berkembang hingga mencapai 107 hektare pada periode 2014–2016. Namun, seluruh kawasan tambak mengalami kerusakan akibat bencana pada tahun 2021 sehingga aktivitas produksi sempat terhenti.
Pemerintah daerah kemudian melakukan rehabilitasi secara bertahap. Pada 2025, Kementerian Kelautan dan Perikanan membantu memperbaiki 45 hektare tambak garam di Pulau Sabu, sedangkan Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua merehabilitasi 10 hektare tambak di Pulau Raijua melalui APBD.
Menurut Lagabus, garam yang dihasilkan dari Sabu Raijua memiliki kadar natrium klorida (NaCl) mencapai 99,91 persen, menjadikannya salah satu garam berkualitas tertinggi di Indonesia.
Dengan kualitas tersebut, garam Sabu Raijua dinilai berpotensi memenuhi kebutuhan garam industri nasional yang selama ini masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Pemerintah daerah juga terus mendorong pengembangan garam rakyat melalui Program Mongehi Semesta agar masyarakat pesisir mampu menghasilkan garam konsumsi berkualitas tinggi sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga.
Budidaya Rumput Laut Mulai Bangkit Pascabadai Seroja
Selain sektor garam, Tim Bappenas juga mengunjungi kebun bibit rumput laut di Desa Lobohede, Kecamatan Hawu Mehara, dan Desa Ledeke, Kecamatan Raijua.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan