Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Sementara itu, Ketua Sinode GMIT, Pdt. Semuel Benjamin Pandie, S.Th., menegaskan bahwa Bulan Budaya GMIT bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bagian dari upaya gereja untuk menemukan dan merawat jati dirinya sebagai gereja yang bertumbuh di tengah kekayaan budaya Nusantara.
“GMIT adalah gereja Nusantara. Melalui Bulan Budaya, kita belajar bahwa budaya dan Injil dapat berjalan bersama dalam membangun kemanusiaan, persaudaraan, dan persekutuan,” ujarnya.
Ketua Panitia Bulan Budaya GMIT Maranatha Oebufu Tahun 2026, Martin Manafe, S.Sos., M.M., menyampaikan rasa syukur atas suksesnya seluruh rangkaian kegiatan yang telah berlangsung sejak awal Mei 2026.
Menurutnya, selain menjadi sarana pelestarian budaya, kegiatan tersebut juga memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengenal akar budaya mereka sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi jemaat melalui keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Malam penutupan berlangsung semarak dengan berbagai pertunjukan budaya dari beragam etnis, tarian tradisional, pujian, pameran UMKM, serta atraksi seni yang menampilkan kekayaan budaya Nusa Tenggara Timur.
Suasana kebersamaan yang tercipta sepanjang kegiatan menjadi simbol kuat bahwa keberagaman bukanlah alasan untuk terpisah, melainkan kekuatan untuk terus melangkah bersama dalam membangun Kota Kupang yang harmonis, inklusif, dan berbudaya. (*/rnc)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan