Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Belajar menjadi aktivitas instan tanpa refleksi, dan guru kehilangan ruang untuk membangun proses berpikir yang bermakna. Fenomena ini bukan hanya persoalan teknologi, tetapi persoalan kesadaran. Banyak pelajar kini tidak benar-benar “hadir” dalam proses belajar. Mereka ada secara fisik di kelas, tetapi pikirannya terpecah antara notifikasi media social dan kecemasak akademik. Belajar tanpa kesadaran ibarat membaca tanpa memahami: mata melihat, tetapi hati tak terlibat.
Menghidupkan Kembali Kesadaran dalam Belajar
Kesadaran (Mindfulness) dalam belajar berarti menghadirkan diri sepenuhnya dalam proses belajar mengajar, berpikir dan merasakan apa yang dipelajari dengan penuh perhatian. Konsep ini sejalan dengan filosofi bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantara yang menekankan ing ngarsa sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wury handayani, pendidik menuntun kesadaranbatin peserta didik agar menjadi pembelajar mandiri dan berjiwa Merdeka.
Dalam konteks modern, mindfulness dapat diterapkan melalui strategi sederhana : memberi waktu jeda refleksi setelah belajar, mengajak siswa menulis jurnal pembelajaran, atau memulai Pelajaran dengan aktivitas kesadaran diri seperti “tarikan nafas bersama” selama satu menit. Kegiatan ini bukan membuang waktu, tetapi menyiapkan ruang batin agar pikiran siap menyerap makna.



WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

