Direktur Eksekutif Daerah WALHI NTT, Yuvensius Stefanus Nonga, menilai skala pembangunan tersebut menunjukkan bahwa K-SIGN bukan sekadar proyek produksi garam biasa, melainkan transformasi besar terhadap bentang alam pesisir di salah satu pulau kecil terluar Indonesia.

Menurutnya, wilayah pesisir Pulau Rote tidak dapat dipandang semata sebagai ruang produksi industri karena memiliki fungsi ekologis dan sosial yang sangat penting bagi masyarakat setempat.

“Wilayah tersebut merupakan ruang hidup masyarakat yang menopang perikanan tradisional, sumber pangan lokal, perlindungan abrasi, siklus tata air pesisir, hingga keberlangsungan sosial dan budaya masyarakat lokal,” kata Yuvensius, Sabtu (30/5/2026).

Iklan

WALHI NTT mengingatkan bahwa ekspansi industri garam dalam skala ribuan hektare berpotensi memicu perubahan permanen terhadap bentang pesisir.

Risiko yang dikhawatirkan antara lain hilangnya vegetasi alami, berkurangnya kawasan penyangga pantai, hingga meningkatnya ancaman abrasi dan gelombang ekstrem.

Selain itu, perubahan tata ruang pesisir juga dinilai dapat memengaruhi sistem hidrologi kawasan, termasuk kualitas air tanah dan keseimbangan tata air di sekitar lokasi proyek.

Pada wilayah pulau kecil seperti Rote, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko intrusi air laut yang dapat mengancam sumber air bersih masyarakat.