Kupang, RakyatNTT.ID – Proyek Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Kabupaten Rote Ndao digadang-gadang menjadi salah satu sentra produksi garam terbesar di Indonesia.

K-SIGN diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 2 hingga 2,6 juta ton garam per tahun. Angka tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan garam nasional yang saat ini mencapai sekitar 5 juta ton per tahun.

K-SIGN merupakan bagian dari implementasi Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional. Pemerintah menempatkan proyek ini sebagai salah satu program strategis untuk memperkuat industri garam dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan impor.

Iklan

Namun di balik target produksi yang besar, muncul kekhawatiran dari kalangan pegiat lingkungan terkait dampak ekologis dan sosial yang berpotensi ditimbulkan oleh proyek tersebut.

Berdasarkan dokumen perencanaan pembangunan, kawasan K-SIGN akan dikembangkan dalam skala yang sangat luas.

Pada Tahap 1, area yang disiapkan mencapai sekitar 743 hektare, sementara Tahap 2 direncanakan berkembang hingga lebih dari 12.600 hektare yang tersebar di berbagai wilayah pesisir Pulau Rote.

Pengembangan kawasan tidak hanya mencakup tambak garam, tetapi juga berbagai fasilitas pendukung industri, mulai dari area kristalisasi, kolam produksi, hingga kawasan pengolahan dan infrastruktur penunjang lainnya.