Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
SENSUS Ekonomi, Mencatat Ekonomi Indonesia merupakan tema utama dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi tahun 2026 di Indonesia. Sensus Ekonomi 2026 ini merupakan Program Nasional yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik untuk mendata seluruh kegiatan usaha dari Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sampai Usaha Besar.

Tujuan dari Sensus Ekonomi ini adalah menyediakan data dasar seluruh kegiatan ekonomi dan sebagai landasan bagi penyusunan kebijakan dan perencanaan pembangunan Nasional. Kegiatan ekonomi seperti Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan, Sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan jaminan sosial wajib serta Sektor aktivitas rumah tangga sebagai pemberi kerja (aktivitas yang menghasilkan barang/jasa oleh rumah tangga untuk keperluan sendiri yang tidak terdiferensiasi tidak tercakup dalam pendataan Sensus Ekonomi 2026.
Pelaksanaan Sensus Ekonomi tahun 2026 ini merupakan Sensus Ekonomi yang ke-5 di Indonesia. Untuk pelaksanaan Sensus Ekonomi di Indonesia pertama kali dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik pada tahun 1986.
Sensus Ekonomi ini dilaksanakan setiap 10 (sepuluh) tahun sekali dengan tahun berakhiran 6 (enam) yakni mulai dari tahun 1986, 1996, 2006 dan 2016, selanjutnya akan dilaksanakan pada tahun 2026 dibulan Mei sampai Agustus. Selama perjalanannya dari tahun 1986 sampai saat ini sensus ekonomi ini telah berevolusi menjadi fondasi kebijakan ekonomi yang krusial, mencatat jutaan pelaku usaha mulai dari usaha mikro di pelosok hingga perusahaan besar.
Seluruh unit usaha/perusahaan, baik yang berbadan hukum maupun tidak, menggunakan bangunan tetap, tidak tetap, maupun tanpa bangunan dan transaksi penjualan online maupun offline semua tercakup dan terdata dalam Sensus Ekonomi ini.
Setelah berakhirnya pandemi Covid-19 tahun 2023, perkembangan UMKM yang semula hanya mengandalkan penjualan secara fisik di toko/kios, keliling ataupun pada pasar-pasar tradisional telah berkembang tidak hanya penjualan secara langsung tetapi menjual dan menawarkan barang/jasa dengan memanfaatkan media digital dan online.
Selain itu, banyaknya pemutusan kerja pada masa pandemi juga mendorong pelaku usaha yang dulunya merupakan karyawan yang beralih menjadi pengusaha pada UMKM. Selain itu, diera digitalisasi ini di Indonesia juga adanya perubahan dan pertumbuhan disektor transportasi dengan meningkatnya ojek online.
Ini menunjukkan bahwa teknologi digital tidak hanya mempermudah kehidupan masyarakat, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru. Dari yang awalnya sekadar transportasi sederhana, kini ojek online telah berkembang dalam penyedia layanan transportasi digital yang berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Pada saat pendataan Sensus Ekonomi 2026, secara spesifik memotret sejauh mana digitalisasi telah masuk ke unit usaha di Indonesia. Seperti Aktivitas E-commerce: Pendataan mengenai penggunaan platform digital untuk transaksi jual beli barang. Selain itu juga, adanya pelaku usaha yang hanya beroperasi secara online (virtual office/home-based) yang melakukan aktifitas ekonomi melalui marketplace, media sosial (Instagram/TikTok Shop), hingga webstore pribadi. Adapun fenomena yang sekarang makin marak yang juga akan tercakup dalam pendataan Sensus Ekonomi 2026 adalah Konten Kreator dan Endorser (Influencer) yang bukan lagi menjadi hobi, melainkan unit ekonomi yang masuk dalam cakupan pendataan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik jumlah usaha mikro kecil di Indonesia berdasarkan hasil pendataan Sensus Ekonomi 2016 adalah sebanyak 26.073.689 unit usaha sedangkan usaha menengah besar adalah sebanyak 348.567 unit usaha.
Jika melihat Usaha mikro kecil maka sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil sepeda motor masih mendominasi di Indonesia sebesar 46,40 persen.
Sektor perdagangan dan reparasi masih dominan di Indonesia dikarenakan sektor yang paling sering dijumpai pada setiap lapisan masyarakat dan selalu menjawab kebutuhan dasar masyarakat akan distribusi barang konsumsi serta pemeliharaan aset kendaraan atau elektronik yang populasinya terus meningkat dari tahun ke tahun.
Bagaimana dengan di Provinsi Nusa Tenggara Timur? Di Nusa Tenggara Timur berdasarkan hasil Sensus Ekonomi tahun 2016 terdapat 432.673 unit usaha secara total, dengan rincian usaha mikro kecil sebanyak 430.312 unit usaha dan usaha menengah besar sebanyak 2.361 unit usaha.
Usaha mikro kecil di Provinsi Nusa Tenggara Timur berdasarkan pesebarannya terbanyak di Flores dan Lembata sebanyak 43,35 persen, disusul Timor sebanyak 35,88 persen dan Sumba sebanyak 12,50 persen sisanya terdapat di Pulau Alor, Rote dan Sabu sebesar 8,17 persen.
Perkembangan usaha mikro kecil di Flores dan Lembata yang lebih tinggi di Nusa Tenggara Timur ini mengindikasikan bahwa aktivitas ekonomi berbasis usaha kecil di kedua wilayah tersebut cukup berkembang, kemungkinan didukung oleh faktor seperti jumlah penduduk, akses pasar, serta potensi sektor unggulan lokal dan juga adanya perkembangan dalam hal sektor industri pengolahan.
Jika dilihat secara keseluruhan di Provinsi Nusa Tenggara Timur distribusi di atas mencerminkan adanya ketimpangan perkembangan ekonomi antar pulau di Nusa Tenggara Timur, sekaligus menjadi dasar penting bagi perumusan kebijakan pemerataan dan penguatan usaha mikro kecil di Kabupaten-kabupaten yang masih lemah dalam memberikan dampak pada pertumbuhan ekonomi melalui sektor unggulan yang menyerap banyak usaha mikro kecil.
Berdasarkan lapangan usaha usaha mikro kecil hasil Sensus ekonomi 2016 di Provinsi Nusa Tenggara Timur didominasi oleh sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil sepeda motor sebesar 42,80 persen disusul oleh sektor industri sebesar 28,32 persen.
Sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil sepeda motor masih mendominasi dikarenakan sebagian besar pelaku usaha mikro kecil bergerak pada aktivitas jual beli barang dan jasa yang langsung berhubungan dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Ini sering kita temui sampai pada pelosok daerah, serta layanan perbaikan kendaraan yang semakin dibutuhkan seiring meningkatnya penggunaan transportasi khususnya di darat, seperti halnya banyaknya bengkel kecil yang membuka jasa ganti oli dan juga tambal ban serta lain sebagainya yang banyak kita jumpai juga.
Terkait sektor industri di Kabupaten/kota menunjukkan bahwa kegiatan produksi seperti pengolahan makanan, kerajinan, dan industri rumah tangga juga memiliki peran penting dalam perekonomian daerah. Idustri makanan dan minuman yang hampir disetiap wilayah di Nusa Tenggara Timur pasti ditemui yang mendongkrak perekonomian wilayah.
Selain itu juga menjamurnya kerajinan dalam hal tenun ikat NTT yang telah berkembang memberikan andil bagi pertumbuhan ekonomi wilayah.
Bagaimana dengan sekarang?
Indonesia khususnya di provinsi Nusa Tenggara Timur untuk tahun 2026 diprediksi akan mengalami pertumbahan yang signifikan khususnya dalam 10 tahun terakhir.
Selama satu dekade tersebut, berbagai indikator pembangunan seperti pertumbuhan ekonomi, peningkatan jumlah usaha mikro kecil, pembangunan infrastruktur, serta aktivitas perdagangan menunjukkan kecenderungan meningkat. Oleh karena itu, tren positif ini menjadi dasar prediksi bahwa pada tahun 2026 pertumbuhan akan semakin signifikan.
Kondisi ini juga dapat dipengaruhi oleh upaya pemerintah dalam mendorong investasi, memperluas akses pasar, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sehingga mampu memperkuat perekonomian daerah secara keseluruhan khususnya di Nusa Tenggara Timur.
Selain itu, di jaman digitalisasi saat ini, perkembangan usaha tidak hanya terlihat dari bentuk fisik seperti toko atau tempat usaha, tetapi juga dari aktivitas secara online yang sering kali tidak tampak secara langsung. Banyak pelaku usaha mikro kecil mulai beralih ke platform digital, seperti media sosial dan marketplace, untuk memasarkan produknya.
Meskipun secara kasat mata jumlah usaha mungkin terlihat tidak mengalami pertumbuhan yang signifikan, sebenarnya terjadi pergeseran pola bisnis dari offline ke online. Hal ini membuat pertumbuhan usaha menjadi kurang terlihat secara fisik, namun tetap meningkat dari sisi transaksi, jangkauan pasar, dan jumlah pelaku usaha yang terlibat dalam ekonomi digital.
Akhirnya hadirnya sensus ekonomi 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik ini tidak hanya memotret perkembangan jumlah usaha, juga memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi dan transformasi dunia usaha, termasuk pergeseran ke arah digitalisasi.
Sensus ini mampu menangkap berbagai aspek penting seperti karakteristik usaha, penggunaan teknologi, pola pemasaran, hingga kontribusi sektor usaha terhadap perekonomian. Dengan demikian, data yang dihasilkan tidak hanya menunjukkan pertumbuhan secara kuantitatif, tetapi juga kualitas dan dinamika usaha yang berkembang, sehingga dapat menjadi dasar yang kuat bagi perumusan kebijakan yang lebih tepat sasaran di masa depan.
Bagi pemerintah pusat maupun daerah khususnya Nusa Tenggara Timur, hasil Sensus Ekonomi 2026 menjadi sumber data yang sangat penting dalam merumuskan kebijakan pembangunan ekonomi yang lebih tepat sasaran. Informasi yang dihasilkan dapat digunakan untuk memahami kondisi riil pelaku usaha, mengidentifikasi sektor unggulan, serta melihat tantangan yang dihadapi, termasuk dalam hal digitalisasi dan pemerataan ekonomi antarwilayah.
Dengan demikian, pemerintah dapat menyusun program yang lebih efektif, seperti pemberdayaan usaha mikro kecil, peningkatan infrastruktur, pelatihan sumber daya manusia, serta perluasan akses pasar dan pembiayaan, sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Pelaku usaha khususnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur, diharapkan dapat memberikan jawaban yang sebenar-benarnya tanpa menutupi informasi apa pun dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026. Kejujuran dan keterbukaan sangat penting agar data yang dikumpulkan benar-benar mencerminkan kondisi nyata di lapangan.
Termasuk di dalamnya usaha-usaha yang tidak terlihat secara fisik, seperti usaha berbasis online atau digital, juga perlu dilaporkan dengan jelas. Dengan partisipasi yang jujur dan menyeluruh, data yang dihasilkan akan lebih akurat dan terpercaya, sehingga dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan pengambilan kebijakan yang tepat demi kemajuan perekonomian daerah.
Mari kita sama-sama menyukseskan pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Indonesia terimalah petugas dengan memberikan data yang baik dan benar karena yang Anda sampaikan akan sangat menentukan kualitas hasil Sensus Ekonomi 2026.
Data tersebut bukan hanya sekadar angka, tetapi menjadi dasar penting dalam penyusunan kebijakan, perencanaan pembangunan, serta pengambilan keputusan oleh pemerintah. Jika data yang diberikan akurat dan jujur, maka program yang dirancang akan lebih tepat sasaran dan mampu menjawab kebutuhan nyata para pelaku usaha.
Sebaliknya, data yang tidak sesuai dapat menyebabkan kebijakan yang kurang efektif. Oleh karena itu, partisipasi aktif dan kejujuran Anda sangat berperan dalam menghasilkan data yang berkualitas demi kemajuan ekonomi bersama. Sensus Ekonomi 2026, Mencatat Ekonomi Indonesia. (*)




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

