Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Pawai Paskah dapat dirangkaikan dengan aksi membersihkan lingkungan atau membagikan makanan bergizi. Pameran UMKM dapat menjadi ruang pemberdayaan ekonomi bagi jemaat yang kurang mampu. Obor perdamaian yang diarak dari Atambua hingga Rote dapat menjadi simbol bahwa perdamaian tidak hanya dinyanyikan, tetapi diperjuangkan melalui dialog lintas agama dan lintas etnis.
Dietrich Bonhoeffer, teolog Jerman yang mati syahid, mengajarkan bahwa anugerah Kristus tidak pernah murah. Anugerah yang tidak menuntut perubahan hidup adalah anugerah murahan. Tetapi Bonhoeffer juga mengajarkan bahwa perayaan adalah bagian dari perlawanan terhadap kejahatan.
Dalam tahanan Nazi, ia tetap merayakan ibadah, menyanyikan lagu-lagu pujian, dan merayakan Paskah. Baginya, perayaan adalah tindakan perlawanan terhadap kuasa maut. Demikian pula, perayaan Paskah GMIT yang meriah adalah perlawanan terhadap keputusasaan yang ditimbulkan oleh kemiskinan, kekeringan, dan ketidakadilan.
Langkah-langkah sederhana seperti pendampingan satu keluarga miskin ekstrem per jemaat, program sarapan bergizi untuk balita di lingkungan gereja, kelas edukasi kesehatan reproduksi untuk remaja, posko informasi dan advokasi bagi calon buruh migran adalah langkah-langkah kecil yang jika dilakukan secara kolektif oleh ratusan jemaat GMIT di seluruh NTT akan menghasilkan dampak yang luar biasa. Dan perayaan Paskahlah yang memberi energi dan sukacita untuk melakukan langkah-langkah itu.
Epilog: Semoga GMIT Menemukan Makna Paskah dalam Perayaan dan Tindakan
Semoga GMIT terus merayakan Paskah dengan meriah, dengan total, dengan melibatkan seluruh elemen budaya dan seni. Karena perayaan itu adalah liturgi yang harus dirayakan, liturgi yang mengingatkan kita bahwa kematian telah dikalahkan, bahwa kubur kosong, bahwa hidup menang.
