Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Di Kabupaten Rote Ndao, Paskah dirayakan dengan pawai bernuansa etnis, memadukan iman Kristen dengan kearifan budaya lokal. Di Kabupaten Kupang, perayaan Paskah dilaksanakan dengan pawai akbar dan malam puji-pujian yang megah.
Di Kota Kupang dengan perayaan Jalan Salib, di Atambua dan berbagai klasis di seluruh penjuru NTT, perayaan Paskah menjadi pusat perhatian dan fokus kebersamaan umat.
Ini bukanlah pemborosan. Ini adalah liturgi yang hidup, liturgi yang melibatkan seluruh tubuh, seluruh indra, seluruh komunitas. Di sinilah Paskah benar-benar dihayati: kisah kematian sampai kebangkitan tidak hanya didengar, tetapi dialami melalui drama, tarian, dan nyanyian.
Obor perdamaian yang menyala di sepanjang jalan bukan sekadar atraksi, melainkan deklarasi bahwa terang kebangkitan Kristus tidak berhenti di dalam gedung gereja, tetapi menerobos batas-batas geografis, etnis, dan denominasi.
Membela Perayaan: Mengapa Liturgi Paskah Harus Dirayakan dengan Meriah?
Mungkin ada yang bertanya: mengapa harus semeriah ini? Apakah Paskah tidak cukup dirayakan dengan ibadah sederhana? Apakah kemeriahan ini tidak menyimpang dari esensi penderitaan dan kematian Yesus?
Pertanyaan-pertanyaan ini muncul dari pemahaman yang sempit tentang liturgi. Seorang teolog liturgi terkemuka, Robert E. Webber, dalam bukunya Ancient-Future Faith, menegaskan bahwa liturgi Paskah bukanlah sekadar pengulangan ritual, melainkan partisipasi dalam realitas kematian dan kebangkitan Kristus.
