Belum lagi persoalan buruh migran yang berangkat ke luar negeri dengan harapan memperbaiki ekonomi keluarga, tetapi seringkali berakhir dengan eksploitasi.

Lalu, apa hubungannya dengan perayaan Paskah yang meriah? Justru di sinilah letak kegenapan liturgi. Perayaan Paskah yang sejati tidak mengabaikan penderitaan; ia mengangkat penderitaan ke dalam terang kebangkitan.

Ketika kita merayakan Paskah dengan meriah, kita sedang menyatakan bahwa penderitaan, kemiskinan, penyakit, dan ketidakadilan tidak memiliki kata akhir. Kita sedang menyatakan bahwa di tengah kegelapan, terang Kristus tetap menyala.

Kita sedang menyatakan bahwa meskipun tubuh kita lemah, meskipun tanah kita kering, meskipun masa depan tampak suram; Kristus telah bangkit, dan karena itu kita memiliki pengharapan.

Walter Brueggemann, teolog Perjanjian Lama terkemuka, dalam The Prophetic Imagination, mengajarkan bahwa nabi sejati tidak hanya menghancurkan ilusi-ilusi masyarakat yang mapan (kritik), tetapi juga menumbuhkan imajinasi tentang tatanan kehidupan yang baru (alternatif).

Perayaan Paskah adalah latihan imajinasi profetis, latihan untuk membayangkan bahwa dunia yang berbeda mungkin terjadi, bahwa kesembuhan mungkin datang, bahwa keadilan mungkin tegak. Dan imajinasi ini bukanlah pelarian; ia adalah bahan bakar untuk tindakan.

Paskah Galilea: Allah Berpindah Lokus ke Pinggiran

Salah satu rangkaian Paskah GMIT tahun ini yang paling bermakna adalah Paskah Galilea, di mana umat melakukan prosesi dari laut menggunakan perahu menuju Kupang, mengingatkan kembali kisah pelayanan Yesus di Galilea. Secara teologis, ini bukan sekadar atraksi liturgi. Ini adalah pengakuan iman bahwa Allah telah berpindah lokus.