Dalam tradisi Perjanjian Lama, Bait Allah di Yerusalem adalah pusat kehadiran Allah. Yerusalem adalah kota kudus. Tetapi dalam Injil-injil, Yesus justru memulai pelayanan-Nya bukan di Yerusalem, melainkan di Galilea wilayah pinggiran yang dihina, wilayah “Galilea bangsa-bangsa” yang penuh dengan percampuran etnis dan agama, wilayah yang jauh dari kemurnian ritual Yerusalem.

Setelah kebangkitan-Nya, malaikat menyuruh para perempuan untuk pergi ke Galilea, karena di sanalah mereka akan melihat Yesus (Matius 28:7). Galilea adalah lokus baru perjumpaan dengan Kristus yang bangkit.

Bagi GMIT, “Galilea” adalah desa-desa kering yang dilanda kekeringan di NTT, adalah kampung- kampung di mana anak-anak menderita stunting, adalah komunitas-komunitas di mana remaja terjerumus dalam perilaku berisiko, adalah rumah-rumah tangga yang ditinggal pergi oleh buruh migran, adalah ruang-ruang di mana penderitaan menjadi bahasa yang paling fasih.

Perayaan Paskah yang meriah di jalan-jalan kota dan desa adalah deklarasi bahwa Kristus hadir di Galilea NTT di pinggiran, di tempat-tempat yang tidak dianggap, di antara mereka yang terluka dan terpinggirkan.

Perayaan yang Memberdayakan: Langkah Sederhana, Komitmen Bersama

Perayaan Paskah GMIT yang meriah tidak berhenti pada pawai dan nyanyian. Ia memberdayakan jemaat untuk mengambil langkah-langkah sederhana namun nyata. Lomba paduan suara dapat diikuti dengan penggalangan dana untuk anak-anak stunting.