Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Para teolog pembebasan, seperti Gustavo Gutiérrez dan Leonardo Boff, meli‐ hat Paskah sebagai basis pembebasan manusia dari segala bentuk perbudakan: dosa, ketakutan, ketidakadilan, dan sistem-sistem yang mendehumanisasi.
Namun, demonstrasi ini tidak dilakukan dengan cara menarik diri dari dunia, melainkan dengan cara merayakan hidup di tengah kematian, merayakan kebangkitan di tengah penindasan, merayakan harapan di tengah keputusasaan.
Di sinilah pawai Paskah GMIT yang melibatkan ribuan umat menjadi sebuah tindakan profetis. Ketika umat GMIT berjalan di jalan-jalan kota dan desa dengan obor perdamaian, dengan nyanyian kemenangan, dengan atribut etnis yang membanggakan, mereka sedang menyatakan kepada dunia: “Kami tidak takut kepada kematian. Kami tidak takut kepada sistem yang menindas.
Kristus telah bangkit, dan karena itu hidup lebih kuat daripada maut.” Pawai ini bukan sekadar atraksi; ia adalah liturgi publik yang mengubah ruang publik menjadi ruang sakral, yang menyatakan bahwa Allah hadir di jalan-jalan, bukan hanya di dalam gedung.
Perayaan Paskah GMIT juga menjadi kritik terhadap misi gereja itu sendiri, tetapi kritik yang membangun, bukan yang menghancurkan. Gereja seringkali terjebak dalam ritual yang hampa, dalam liturgi yang tidak menyentuh kehidupan.
