Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Liturgi yang melibatkan seluruh indra; penglihatan, pendengaran, gerakan, rasa, bahkan sentuhan justru memungkinkan jemaat untuk mengalami misteri Paskah secara lebih utuh. Drama, tarian, nyanyian, dan pawai bukanlah tambahan yang tidak perlu; ia adalah media inkarnasional yang membuat iman menjadi daging.
Alexander Schmemann, teolog Ortodoks Timur terkemuka, dalam tulisannya tentang liturgi dan sakramen, mengajarkan bahwa liturgi adalah “perjalanan menuju Kerajaan Allah” yang sudah dimulai di sini dan sekarang.
Perayaan Paskah yang meriah adalah proklamasi sukacita bahwa maut telah dikalahkan, bahwa kubur kosong, bahwa hidup telah menang. Sukacita ini tidak bisa ditahan-tahan; ia harus meluap dalam nyanyian, tarian, dan pawai. Bagi Schmemann, liturgi yang kering dan tanpa ekspresi sukacita justru mengkhianati hakikat Paskah itu sendiri.
Lebih jauh lagi, Paskah adalah liturgi interupsi, interupsi ilahi terhadap kehidupan yang mapan, nyaman, dan kehilangan kepedulian. Refleksi teologis dari tradisi Reformed menyatakan bahwa Yesus ingin membongkar zona nyaman hidup enak dan merobohkan kemah egois.
Namun, interupsi ini bukan untuk membuat kita berhenti merayakan, melainkan untuk mengubah arah perayaan kita dari perayaan yang berpusat pada diri sendiri menjadi perayaan yang berpusat pada Kristus dan sesama. Dengan kata lain, Paskah justru harus dirayakan dengan meriah, tetapi kemeriahan itu diarahkan untuk membangkitkan kesadaran dan komitmen baru.
Paskah sebagai Demonstrasi Profetis dan Kritik terhadap Sistem
Paskah adalah demonstrasi ilahi terhadap sistem yang menindas. Kebangkitan Kristus adalah deklarasi bahwa kematian; baik kematian fisik maupun kematian sosial, ekonomi, politik, tidak memiliki kata akhir.
