Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Langkah agresif ini diambil setelah pembicaraan damai di Islamabad, Pakistan, yang melibatkan Wakil Presiden JD Vance, menemui jalan buntu. Iran bersikeras menuntut kendali penuh atas Selat Hormuz, pembayaran reparasi perang, dan pelepasan aset yang dibekukan sebagai syarat gencatan senjata.
U.S. Central Command (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa blokade akan mulai diterapkan secara fisik pada Senin pukul 10.00 waktu Timur AS. Meski AS menjamin tidak akan menghalangi kapal menuju pelabuhan non-Iran, pasar tetap khawatir karena selat ini merupakan jalur vital bagi seperlima pasokan minyak dunia.
Dampak Ekonomi Global dan Lonjakan Harga Minyak
Keputusan blokade ini menghancurkan harapan pasar akan berakhirnya konflik dalam waktu dekat. Krisis ekonomi global diprediksi bakal memburuk seiring dengan pergerakan liar harga minyak mentah yang sempat menyentuh angka US$ 100 per barel.
Dunia kini menanti reaksi balasan dari Iran, yang sebelumnya berencana mengenakan tarif bagi kapal yang melintas. Situasi ini menciptakan ketidakpastian tinggi yang membuat investor cenderung menghindari aset berisiko (risk-off) seperti saham di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sentimen Domestik: Menanti Data Penjualan Eceran BI
Di tengah guncangan eksternal, pelaku pasar domestik sebenarnya tengah menanti rilis Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia hari ini.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

