Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Pasalnya, sampel darah harus dikirim ke Laboratorium Kesehatan Hewan di Provinsi NTT atau bahkan ke Balai Besar Veteriner (BBVet) di Denpasar maupun Surabaya untuk pemeriksaan penyakit tertentu.
“Kondisi geografis Sabu Raijua sebagai daerah kepulauan membuat pengiriman sampel darah memakan waktu lama. Hal ini menghambat lalu lintas perdagangan ternak dan berdampak pada pendapatan peternak,” ujar Thobias Uly.
Dalam pertemuan tersebut, Wabup Sabu Raijua mengajukan tiga permohonan utama kepada Pemerintah Provinsi NTT.
Pertama, dukungan koordinasi dalam penanganan penyakit hewan menular. Kedua, fasilitasi penyediaan vaksin dan obat-obatan untuk kesehatan hewan. Ketiga, dukungan pembangunan Laboratorium Kesehatan Hewan di Kabupaten Sabu Raijua.
Menurutnya, keberadaan laboratorium tersebut sangat penting agar proses pengujian sampel darah dapat dilakukan secara cepat dan efisien di daerah sendiri.
“Kami berharap pembangunan laboratorium ini dapat difasilitasi. Ke depan pedagang tidak perlu lagi mengirim sampel jauh-jauh, kecuali untuk uji yang lebih spesifik yang memang harus dilakukan di Bali atau Surabaya,” jelasnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT, Yohanes Oktavianus, menyatakan dukungan terhadap upaya pengembangan sektor peternakan di Kabupaten Sabu Raijua.





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

