Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
SoE, RakyatNTT.ID – Bupati Timor Tengah Selatan (TTS), Eduard Markus Lioe, secara resmi melaunching produk Beras Nona Bena sekaligus melakukan tanam perdana padi di Persawahan Rata Bena, Desa Bena, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten TTS, Senin (16/3/2026).
Beras Nona Bena merupakan produk beras lokal yang dihasilkan oleh Kelompok Tani Sahabat dari Persawahan Rata Bena. Pada peluncuran perdana ini, sebanyak lima ton beras Nona Bena disiapkan untuk mulai didistribusikan ke pasar.
Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penanaman perdana padi varietas Cibogo, salah satu varietas padi unggul nasional yang dirilis pada tahun 2000 oleh Balai Besar Penelitian Padi (BB Padi) Sukamandi. Varietas ini dikenal cocok untuk lahan sawah irigasi hingga ketinggian 800 meter di atas permukaan laut.
Penanaman dilakukan di lahan seluas 50 are yang berada di kawasan persawahan Rata Bena.
Kegiatan launching dihadiri oleh Bupati TTS Eduard Markus Lioe, Sekretaris Daerah Kabupaten TTS, staf ahli bupati, para asisten sekda, pimpinan OPD, pimpinan Perum Bulog Cabang Soe, pimpinan PT PPI Cabang Kupang, para kepala bagian, Camat Amanuban Selatan bersama Ketua TP PKK kecamatan, Kepala Desa Bena, penyuluh pertanian, kelompok tani, serta masyarakat setempat.
Dalam sambutannya, Bupati Eduard menyampaikan bahwa peluncuran Beras Nona Bena merupakan langkah penting dalam mewujudkan kemandirian pangan daerah.
“Launching Beras Nona Bena ini menjadi bukti bahwa kita tidak hanya menanam padi, tetapi juga menanam harapan dan kemandirian pangan daerah. Dari persawahan seperti inilah pangan masyarakat kita bertumbuh,” ujar Eduard.
Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) bersama para penyuluh pertanian akan terus mendampingi petani, mulai dari proses pembenihan hingga menghasilkan beras berkualitas yang mampu bersaing di pasar.
Menurutnya, peluncuran beras lokal ini juga menandai perubahan dari sekadar produksi gabah menuju produksi beras dengan kemasan yang lebih baik dan bernilai ekonomi lebih tinggi.
“Saya berharap Beras Nona Bena bisa berkembang menjadi salah satu beras unggulan di Kabupaten TTS,” katanya.
Bupati Eduard juga menilai potensi pertanian di kawasan Persawahan Bena sangat besar. Dengan luas lahan yang tersedia serta semangat petani yang tinggi, wilayah tersebut berpotensi menjadi lumbung padi di bagian selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pemerintah Kabupaten TTS, lanjutnya, berkomitmen untuk terus meningkatkan produksi pertanian melalui berbagai program seperti pencetakan sawah baru, pembangunan irigasi, serta penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan).
“Akan ada sekitar 2.000 hingga 3.000 hektare sawah baru yang sudah direncanakan dan diharapkan pengerjaannya dapat dimulai dalam waktu dekat. Kami juga merencanakan pembangunan waduk baru agar pengairan sawah dari hulu hingga hilir dapat dimaksimalkan,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada TNI yang selama ini memberikan pendampingan kepada petani dalam pengembangan sektor pertanian. Menurutnya, sinergi berbagai pihak menjadi kunci dalam mewujudkan swasembada pangan.
Bupati Eduard turut menegaskan pentingnya kolaborasi antara petani, penyedia pupuk, serta penyedia benih agar tidak ada hambatan dalam proses produksi pertanian.
“Jika ada pihak yang menghambat proses pertanian, maka izinnya akan kami cabut. Penegasan ini harus ditindaklanjuti,” tegasnya.
Beras Nona Bena sendiri dikemas dalam kemasan lima kilogram dengan desain logo bergambar seorang perempuan yang mengenakan motif tenun khas Amanuban, sebagai identitas budaya lokal.
Launching ditandai dengan penyerahan simbolis kepada pemilik Toko Perdana Soe, sekaligus pengangkutan stok beras untuk didistribusikan kepada masyarakat.
Ketua Kelompok Tani Sahabat, Rony Nubatonis, menjelaskan bahwa peluncuran produk ini merupakan hasil proses panjang yang telah dipersiapkan selama hampir dua tahun.
“Kami menyiapkan lahan seluas 50 are untuk penanaman benih padi Cibogo dan peluncuran lima ton beras Nona Bena oleh Bapak Bupati. Persiapan ini sudah kami diskusikan sejak Mei 2024 untuk memasarkan hasil pertanian, sementara izin operasional baru selesai pada 2025,” jelasnya.
Ia mengakui bahwa menghasilkan beras berkualitas bukan hal mudah bagi para petani, terlebih dengan biaya produksi yang cukup besar dan harga pasar yang sering tidak stabil.
“Biaya olah tanam sangat besar, sementara harga pasar tidak selalu stabil. Karena itu kami mencoba berinovasi melalui produk beras lokal ini, dengan harapan hasil panen petani bisa dihargai lebih baik,” katanya.
Beras Nona Bena nantinya akan disalurkan kepada para pengusaha serta Perum Bulog, sesuai dengan kesepakatan harga antara petani dan pihak penerima.
Pimpinan Perum Bulog Cabang SoE, Teguh N. Firmansyah, menyatakan pihaknya siap menerima pasokan beras Nona Bena jika harga dan kualitasnya memenuhi standar.
“Untuk jenis beras Nona Bena ini kami belum melihat lebih detail kadar air dan tingkat patahan bulirnya, tetapi ini masuk dalam kategori beras premium. Jika sesuai, kami siap menerima karena akan didistribusikan untuk beras jatah ASN,” ujarnya.
Selain launching dan penanaman perdana, kegiatan tersebut juga diisi dengan dialog antara masyarakat dan pemerintah daerah, di mana petani menyampaikan berbagai aspirasi seperti kebutuhan alsintan, pendampingan tenaga pertanian lapangan, serta perbaikan saluran irigasi. (rnc26)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

