Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
SAYA mengenal sosok Valentino Luis pertama kali melalui Dicky Senda, ketika saya mulai mendalami isu pengelolaan komunitas, literasi, kewirausahaan, dan Pendidikan Luar Sekolah. Dari sanalah nama Valentino disebut sebagai salah satu figur penting yang karyanya patut dipelajari.
Pada awalnya, dari nama itu, saya sempat mengira ia seorang misionaris asal Italia yang berkarya di Flores. Namun setelah menelusuri media sosialnya terutama Facebook saya baru menyadari bahwa ia adalah putra daerah, orang Maumere.
Sejak pertama kali melihat unggahan-unggahannya, saya langsung tertarik. Ada kejujuran, keberanian, dan ketulusan yang kuat dalam cara ia berkarya. Kesan pertama saya sederhana namun dalam “orang ini luar biasa”. Saya menyukai foto-fotonya, caranya bertutur, serta kemampuannya mengolah karya menjadi alat perubahan.
Melalui berbagai platform digital, ia memperlihatkan bagaimana literasi dan kewirausahaan berbasis lokal bisa berdiri tegak, berakar kuat pada budaya, namun tetap bergema hingga ke seluruh Nusantara dan bahkan dunia.
Sebagai seorang fotografer amatiran, saya belajar banyak dari karya visualnya—mulai dari sudut pengambilan, pemilihan tone, hingga ketepatan menangkap momen. Foto-fotonya bukan sekadar indah, tetapi hidup dan menggugah rasa. Dari situlah saya mengetahui bahwa ia adalah seorang fotografer sekaligus jurnalis perjalanan, dengan karya-karya yang dapat kita baca di majalah yang tersedia di pesawat.
