Dalam struktur kekuasaan itu, seorang bayi laki-laki adalah ancaman yang harus disingkirkan. Menariknya, sebelum Musa menjadi tokoh besar, Musa terlebih dahulu adalah anak yang nyaris menjadi korban sistem. Artinya, Alkitab tidak hanya mengangkat kepahlawanan pemimpin, tetapi juga mengangkat peran orang dewasa dan komunitas yang melindungi anak ketika dunia tidak ramah.

Dalam kisah itu, ibu Musa (Yokhebed) dan keluarganya mengambil keputusan yang penuh risiko. Mereka menyembunyikan Musa, menolak menyerah kepada sistem yang mematikan. Tetapi tindakan mereka bukan tindakan nekat tanpa hikmat; ia adalah keberanian yang kreatif. Mereka menyiapkan keranjang papirus, melapisinya, dan menempatkan bayi itu pada aliran air yang dipantau, sementara Miryam berjaga dari kejauhan. Ada strategi, ada perencanaan, ada “pengawasan,” ada jaringan relasi yang bekerja.

Ketika putri Firaun menemukan bayi itu, Miryam tampil menawarkan solusi, sehingga Musa tidak hanya diselamatkan, tetapi bahkan tetap dirawat oleh ibunya sendiri. Dengan kata lain, penyelamatan Musa adalah hasil perjumpaan antara iman yang berani, kecerdasan praktis, dan jejaring solidaritas.

Pola ini penting, sebab ia mengoreksi pemahaman iman yang hanya berhenti pada doa tanpa tindakan. Yokhebed tidak sekadar berkata “Tuhan pasti jaga,” lalu pasrah. Ia bertindak seolah-olah masa depan anak itu layak diperjuangkan, sekalipun kondisi politik dan ekonomi tampak mustahil.