Di level lebih luas, gereja juga perlu berani menyuarakan advokasi dengan cara yang santun tetapi tegas. Jika ada praktik pungutan yang memberatkan keluarga rentan, gereja tidak harus memusuhi sekolah, tetapi dapat menjadi mitra dialog yang memperjuangkan kebijakan keringanan dan transparansi. Gereja dapat mendorong agar mekanisme bantuan dan pembiayaan pendidikan tidak menekan anak. Advokasi ini penting karena anak sering menjadi pihak yang paling mudah “menyerap” tekanan ekonomi orang dewasa. Mereka menjadi ruang penampung cemas keluarga, tanpa punya kemampuan memprosesnya.

Pada akhirnya, refleksi ini membawa kita kembali pada inti iman Kristen: Allah adalah Allah yang berpihak pada yang lemah. Kisah Musa mengingatkan bahwa penyelamatan sering kali dimulai dari tindakan kecil namun berani: menyembunyikan, menjaga, menyiapkan jalan, dan membangun jaringan.

Dalam konteks GMIT, tindakan kecil itu bisa berupa satu percakapan yang mendengarkan anak, satu kunjungan yang menenangkan keluarga, satu bantuan buku dan pena yang meringankan beban, atau satu pendampingan administratif yang membuka akses bantuan.

Hal-hal kecil ini, jika dilakukan secara konsisten dan sistematis, membangun budaya gereja yang benar-benar ramah anak bukan ramah dalam slogan, tetapi ramah dalam cara hidup.