Jakarta, RakyatNTT.ID – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengingatkan perempuan di seluruh Indonesia untuk menghindari menjalin hubungan dengan laki-laki perokok. Peringatan tersebut disampaikan melalui video di akun media sosial pribadinya pada Senin (12/1/2026).

Dalam pesan tersebut, Budi menegaskan bahwa dampak buruk rokok tidak hanya dirasakan oleh perokok aktif, tetapi juga oleh orang-orang di sekitarnya yang terpapar asap rokok.

“Buat para perempuan, termasuk anakku sendiri, jangan pernah mau sama cowok perokok. Ini red flag besar. Dia yang merokok, tapi tubuhmu yang harus nanggung,” ujar Budi dalam pernyataannya yang dikutip Rabu (14/1/2026).

Iklan

Budi menjelaskan bahwa asap rokok dapat menempel di udara, pakaian, rambut, hingga kulit orang lain. Tanpa disadari, kondisi ini membuat perempuan berisiko menjadi perokok pasif, meski tidak pernah merokok secara langsung.

“Asap itu bisa masuk ke tubuhmu tanpa disadari dan bikin kamu jadi perokok pasif,” katanya.

Menurut Budi, perokok pasif memiliki risiko kesehatan serius, salah satunya kanker serviks. Ia menyebut risiko kanker tersebut dapat meningkat hingga 40 persen dibandingkan perempuan yang tidak terpapar asap rokok.

“Kanker ini bisa cepat menggerogoti tubuh, bikin aktivitas harian jadi susah, bahkan mendekatkanmu dengan kematian,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa zat karsinogen dalam asap tembakau dapat merusak DNA dan memicu pertumbuhan sel kanker. Paparan nikotin jangka panjang juga meningkatkan risiko kanker melalui percepatan pembelahan sel dan penekanan kematian sel normal.

Selain itu, asap rokok disebut dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh terhadap Human Papillomavirus (HPV), virus utama penyebab kanker serviks. Jumlah sel darah putih pada perokok aktif maupun pasif cenderung lebih sedikit, sehingga tubuh tidak optimal melawan infeksi HPV.

Mengacu pada data American Cancer Society, perempuan perokok memiliki risiko dua kali lipat terkena kanker serviks dibandingkan perempuan yang tidak merokok. Produk sampingan tembakau bahkan ditemukan dalam lendir serviks dan dapat mempercepat perkembangan kanker.

Meski demikian, Budi menegaskan bahwa saat ini layanan deteksi dini kanker payudara dan kanker serviks sudah tersedia di fasilitas kesehatan tingkat pertama.

“Kabar baiknya, kalau kamu punya faktor risiko, kamu bisa melakukan screening kanker lewat layanan cek kesehatan gratis di Puskesmas,” ujarnya.

Layanan tersebut meliputi pemeriksaan payudara klinis, ultrasonografi (USG), serta tes HPV DNA untuk mendeteksi kanker serviks sejak dini.

“Kamu bisa lakukan pemeriksaan payudara klinis, USG untuk melihat jaringan payudara, dan tes HPV DNA untuk deteksi dini kanker serviks,” tutup Budi. (*/rnc)