Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
PERINGATAN Hari Ibu seharusnya tidak berhenti pada ungkapan simbolik dan seremonial. Ia adalah momen reflektif untuk melihat lebih dalam makna keibuan dalam kehidupan sosial, terutama dalam dunia pendidikan. Di ruang inilah kita menemukan sosok yang kerap bekerja dalam diam namun memberi dampak jangka panjang: perempuan yang sekaligus adalah ibu dan pendidik.
Sebagai perempuan, ia hidup dalam struktur sosial yang masih sarat dengan ekspektasi ganda. Di satu sisi dituntut profesional, berdaya saing, dan produktif; di sisi lain tetap diposisikan sebagai penanggung jawab utama urusan domestik dan emosional keluarga. Namun justru dalam ketegangan inilah lahir ketangguhan dan kedalaman reflektif yang membentuk karakter kepemimpinan perempuan.
Sebagai ibu, ia adalah pendidik pertama dan utama. Sebelum anak mengenal ruang kelas formal, ibu telah memperkenalkan nilai, makna, dan orientasi hidup. Paulo Freire (1970) menekankan bahwa pendidikan sejati tidak hanya mentransmisikan pengetahuan, tetapi membangun kesadaran manusiawi. Dalam praktik keibuan, pendidikan semacam ini berlangsung secara alami melalui keteladanan, pengorbanan, dan kasih yang konsisten.
Ketika identitas ibu menyatu dengan profesi pendidik, lahirlah sebuah praksis pendidikan yang utuh. Pendidik perempuan, khususnya yang juga seorang ibu, tidak sekadar mengajar secara kognitif, tetapi menghadirkan pendidikan yang bersifat humanistik. Ia memahami bahwa peserta didik bukan hanya subjek akademik, melainkan manusia dengan latar, luka, potensi, dan harapan. Perspektif ini sejalan dengan gagasan pendidikan humanis yang menempatkan relasi, empati, dan penghargaan terhadap martabat manusia sebagai inti proses belajar (Noddings, 2013).
Dalam konteks pendidikan tinggi, peran ibu dosen menjadi semakin strategis. Mereka tidak hanya menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, tetapi juga menjadi teladan integritas akademik, etos kerja, dan kepemimpinan yang berakar pada nilai. Penelitian tentang gender dan pendidikan menunjukkan bahwa kehadiran pendidik perempuan berkontribusi signifikan dalam menciptakan iklim belajar yang inklusif dan suportif (UNESCO, 2022).
Namun dedikasi ini sering kali luput dari pengakuan struktural. Beban kerja akademik, tuntutan publikasi, dan tanggung jawab pengabdian berjalan paralel dengan peran domestik yang tidak ringan. Dalam banyak kasus, keberhasilan institusi pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kerja-kerja sunyi para ibu pendidik kerja yang jarang disorot, tetapi menopang keberlanjutan sistem pendidikan itu sendiri.
Hari Ibu, dalam konteks ini, bukan sekadar penanda kalender atau ritus seremonial, melainkan sebuah ruang refleksi etis yang menuntut kedalaman kesadaran. Menghormati ibu tidak berhenti pada simbol dan perayaan, tetapi menuntut keberanian moral untuk mengakui bahkan menata ulang cara pandang kita terhadap peran perempuan dalam ekosistem pendidikan. Etika pendidikan, sebagaimana ditegaskan oleh Biesta (2015), menuntut lebih dari sekadar efektivitas dan capaian kinerja; ia menuntut keadilan, pengakuan, dan keberpihakan pada martabat manusia. Dalam terang ini, ibu terutama ibu pendidik hadir sebagai subjek etis yang selama ini memberi lebih dari yang dituntut sistem, bekerja melampaui pengakuan formal, dan menghidupi pendidikan sebagai panggilan kemanusiaan, bukan sekadar profesi.
Dengan demikian, Hari Ibu memanggil kita bukan hanya untuk merayakan, tetapi untuk bertanya secara jujur: sejauh mana kebijakan pendidikan kita telah berpihak pada keadilan relasional, keseimbangan peran, dan penghormatan nyata terhadap perempuan ibu yang selama ini menghidupi pendidikan sebagai panggilan moral dan spiritual, bukan sekadar profesi administratif.
Perempuan, ibu, dan pendidik bukanlah identitas yang saling menegasikan, melainkan tiga dimensi eksistensial yang berkelindan dalam satu panggilan hidup. Ketiganya tidak bersaing, tetapi saling meneguhkan dalam praksis keseharian yang sarat makna. Dalam diri seorang ibu pendidik, kita belajar bahwa pendidikan sejati tidak lahir dari klaim otoritas atau kuasa struktural, melainkan dari keteladanan yang dihidupi; bukan dari relasi dominatif, tetapi dari pengabdian yang bersumber pada kasih, tanggung jawab moral, dan kesediaan untuk memberi diri bagi pertumbuhan sesama.
Memuliakan ibu—terutama ibu pendidik—adalah bagian tak terpisahkan dari memuliakan pendidikan itu sendiri. Di tangan mereka, ilmu tidak sekadar diajarkan, tetapi dihidupi; dan melalui dedikasi yang sering berlangsung dalam senyap, lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter, tangguh, dan penuh harapan. (*)






WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

