Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
1. Ketersediaan air bersih menurun tajam akibat musim kering yang lebih panjang, berkurangnya debit mata air, serta intrusi air laut di wilayah pesisir, memperberat beban rumah tangga miskin, terutama perempuan dan anak.
2. Produksi pangan rumah tangga tidak stabil, ditandai meningkatnya gagal panen dan penurunan hasil 20–40 persen di sejumlah desa.
3. Risiko kesehatan meningkat, terutama penyakit berbasis cuaca seperti ISPA, diare, demam berdarah, dan malaria, dengan dampak lebih berat bagi kelompok rentan yang akses layanannya terbatas.
4. Ekosistem mengalami tekanan kuat, termasuk erosi, abrasi pesisir, kebakaran savana, dan penurunan sumber daya perikanan yang memengaruhi pendapatan petani lahan kering dan nelayan kecil.
5. Strategi adaptasi lokal berkembang, seperti diversifikasi tanaman, konservasi air, dan pemanfaatan pengetahuan tradisional, namun belum diperkuat oleh kebijakan, pendanaan, dan teknologi yang memadai.
6. Kelompok rentan tetap menjadi paling terdampak, termasuk perempuan, anak-anak, penyandang disabilitas, lansia, dan masyarakat terpencil yang memiliki akses terbatas terhadap informasi dan layanan dasar.
Temuan lapangan dari riset ini telah memperkaya penyusunan Rencana Aksi Daerah Adaptasi Perubahan Iklim (RAD-API) NTT melalui Kelompok Kerja Perubahan Iklim. Diskusi publik digelar untuk mempresentasikan laporan riset kepada pemangku kepentingan serta memperoleh masukan lintas sektor demi penguatan rekomendasi adaptasi.
