Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Masalah muncul ketika jabatan dan kewenangan dianggap sebagai tanda bahwa seseorang sudah paling benar. Dalam kondisi seperti ini, kritik publik sering disikapi dengan defensif bukan reflektif.
Padahal kritik adalah bagian dari kontrol sosial yang sehat. Ketika pemimpin alergi terhadap kritik, maka kebijakan berisiko lahir dari asumsi bukan dari kebutuhan nyata masyarakat.
Dunia pendidikan juga tidak lepas dari fenomena ini. Sekolah dan lembaga pendidikan seharusnya menjadi ruang belajar yang hidup. Namun, ketika guru, kepala sekolah, atau pengambil kebijakan menutup diri dari evaluasi dan masukan maka pendidikan akan kehilangan ruhnya.
Pendidikan bukan soal siapa yang paling lama mengajar atau paling tinggi jabatannya tetapi siapa yang terus mau memperbaiki proses belajar-mengajar.
Dalam birokrasi, Dunning–Kruger Effect dapat menjelma dalam bentuk keengganan diaudit, resistensi terhadap perubahan dan kecenderungan mempertahankan prosedur lama meski tidak lagi efektif, efisien dan produktif.
Birokrasi yang sehat seharusnya terbuka terhadap evaluasi dan pembaruan karena pelayanan publik adalah amanah bukan sekadar rutinitas administratif.
Ruang politik lokal pun tidak kebal. Rasa “paling tahu” sering dikemas sebagai ketegasan dan wibawa. Padahal, kepemimpinan sejati bukan diukur dari seberapa keras menolak perbedaan pendapat melainkan dari kemampuan mengelola perbedaan itu menjadi kekuatan dalam mengambil keputusan yang lebih bijak. Politik yang sehat membutuhkan dialog bukan sekadar monolog kekuasaan.
