Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Seorang relawan kemanusiaan, dan juga pemerhati lingkungan hidup, Sandyawan Sumardi menyajikan data yang menarik untuk menguatkan alasan, bahwa relasi manusia dan alam itu penting. Sumardi mengungkap, bahwa banjir bandang yang melanda wilayah Sumatra Barat, Sumatra Utara dan Aceh mengakibatkan puluhan kota terdampak.
Beberapa kota ditetapkan sebagai status darurat bencana akibat banjir dan tanah bergerak. Puluhan orang meninggal dunia sebagai akibat dari fenomena alam itu. Badan Penanggulangan Bencana Aceh merilis, bahwa 46.893 jiwa terdampak dan 1500 warga mengungsi.
Sementara itu, Rosana Jamani memaparkan bahwa fenomena alam itu terjadi karena ulah dan keserakahan sekelompok oknum yang mengeruk perut bumi secara sewenang-wenang. Pada 29 November 2025 ± 30, 4 ha hutan dibabat. Kayu Maghoni, Meranti, Jati, Kruing terlempar ke dalam sungai, seperti yang viral di berbagai media.
Data serupa dirilis harian Kompas pada 12 Desember 2025, bahwa rata-rata 36.305 hektar hutan hilang selama tiga dekade. Akibatnya: resiko banjir semakin tinggi. Soal kerusakan alam ini, UNESCO sudah mewanti dan memasukkan ke dalam kawasan dalam bahaya, “in danger” sejak 2011. Namun, hal ini tak menjadi awasan bersama. Seruan untuk menghijaukan kembali alam hanya sebatas slogan. Seruan itu, tak menyata dalam aksi dan menyatu dengan setiap jiwa yang sudah merusak alam. Akibatnya: membawa petaka dan kegelisahan bagi manusia itu sendiri.
