Tanpa kasih sayang, siswa akan merasa terasing, yang tentu berpengaruh pada menurunnya motivasi belajar dan meningkatnya resiko putus sekolah. Singkatnya, guru berhati kasih secara niscaya akan menciptakan situasi hidup yang harmonis, lingkungan belajar yang menyenangkan dan meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa serta membentuk anak didik menjadi pribadi yang seimbang secara sosial dan emosional. Itulah pentingnya menjadi guru berhati kasih.

Menjadi guru seperti ini bukanlah sifat bawaan, melainkan suatu prinsip hidup yang dikembangkan melalui kesadaran diri, dan komitmen hidup. Bagaimana caranya? Pertama, mendekatkan diri dengan anak didik. Lalu, mendengarkan aktif dan membangun dialog dengan anak didik, sehingga dapat menuntun anak sesuai passionnya. Mendengarkan anak didik berarti berupaya memahami, memberikan waktu kepadanya, untuk bercerita tentang keadaan pribadinya, dan meresponsnya dengan kata-kata yang menunjukkan pemahaman, sehingga berpotensi memberdayakan dirinya.

Kedua, menunjukkan kesabaran dan dukungan kepada anak didik. Guru berhati kasih, selalu memandang bahwa kesalahan anak didik menjadi kesempatan belajar baginya. Untuk itu, latihan mindfulness oleh guru penting agar dapat mengelola emosi demi merespons siswa dengan tenang dan penuh kasih. Ketiga, menciptakan lingkungan belajar yang terbuka demi tercipta budaya kolaborasi dan saling menghargai. Maka, guru perlu menggunakan kata-kata positif dan tak boleh beri stigmatisasi bagi anak didik.