Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Kisah di atas, memberi kesan bermakna bagi guru. Seorang guru, perlu menyadari bahwa peran seorang guru yang berhati kasih semakin krusial, di zaman ini. Guru itu pemimpin, yang tentu, berupaya menggerakkan orang lain mencapai tujuan tertentu. Maka, kesejahteraannya perlu diperhatikan demi rasa nyaman dan betah dalam mengajar dan mendidik. Dalam konteks itulah kedua guru di SMAN Luwu Utara menanamkan nilai kasih melalui kebijakan itu. Menurut penulis, kisah hidup kedua guru ini perlu menjadi cermin bagi setiap kepala sekolah dan guru. Itulah ungkapan empati, cinta dan kepedulian luar biasa, yang perlu diapresiasi.
Ungkapan itu menggambarkan bahwa menjadi guru yang berhati kasih memberi makna dan dampak mendalam bagi sesama guru, dan anak didik. Sekolah itu sendiri, bahkan. Relasi emosional antara guru dan anak didik menjadi meningkat, dan tentu, berdampak pada motivasi belajar dan prestasi akademik anak didik.
Jenning dan Greenberg (2009) menyatakan bahwa perhatian, dan kepedulian yang sungguh terhadap anak didik, membuatnya memiliki tingkat kehadiran yang tinggi, memiliki masalah perilaku yang rendah dan sanggup mengatasi stres. Bahkan anak yang berasal dari latar belakang yang berbeda, dengan kondisi ekonomi yang sulit, bila diberi cinta dan perhatian akan merasa diterima. Anak didik itu merasa diteguhkan. Seperti itulah yang ditekankan oleh Nodings (1984) dalam teori “caring” bahwa pendidikan moral dimulai dari caring antarguru dan siswa, untuk membentuk nilai-nilai seperti empati dan tanggung jawab sosial.
