Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Keduanya, memiliki rasa empati, perhatian dan kepedulian terhadap sesama. Atas dasar empati dan kepedulian itu, berdua berinisiatif, mengambil kebijakan melalui kesepakatan bersama orang tua dan komite sekolah memberi sumbangan RP 20.000 per anak, agar dapat menggaji ke-10 guru honorer. Sumbangan itu sukarela sifatnya. Namun, keduanya dituduh melakukan pungutan liar (pungli), untuk menggaji 10 guru honorer yang sudah 10 bulan tak menerima gaji. Akibat dari inisiatif itu, keduanya harus berurusan dengan hukum.
Beruntung, keduanya tak tinggal diam. Terus berupaya dan berusaha mencari jalan, hingga mendapat rehabilitasi dari presiden Prabowo Subianto. Itulah kisah nyata yang dialami oleh dua orang guru, yang berupaya menaburkan kasih dan kebaikan bagi sesamanya.
Dalam konteks era sekarang, era komunikasi digital ini, guru mengalami banyak tantangan. Satu tantangan nyata: bahwa anak-anak menghabiskan waktu ± 4-5 jam, untuk berselancar di media sosial. Mereka dapat berinteraksi dan mudah terhubung dengan yang lain, di berbagai tempat. Uniknya: relasi yang dibangun kian meluas, namun gaya dan pola itu menuntunnya semakin individualis. Daya peka, rasa empati dan peduli terhadap yang lain kian merendah. Kondisi itu, dikisahkan oleh seorang Ibu dari orang tua siswa saat rapat komite sekolah. “Anak sekarang, kalau sudah bermain game, facebook atau sejenisnya, bila dipanggil susah untuk menyahut,” ungkapnya.
