Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Tekanan besar dialami oleh crypto treasury companies, yaitu perusahaan yang menyimpan Bitcoin sebagai bagian dari neraca keuangan. Standard Chartered memperkirakan bahwa jika Bitcoin turun di bawah 90.000 dolar AS, setengah dari total kepemilikan kripto perusahaan-perusahaan tersebut akan berada dalam posisi merugi. Hal ini berpotensi memicu penjualan besar-besaran atau kebutuhan pendanaan tambahan, yang pada akhirnya semakin menekan harga Bitcoin. Saat ini, perusahaan publik tercatat memegang sekitar 4 persen dari total Bitcoin dan 3,1 persen Ether yang beredar.
Tekanan harga Bitcoin juga merembet ke saham perusahaan-perusahaan besar yang selama ini agresif mengoleksi kripto. Saham Strategy telah anjlok 61 persen dari puncaknya di Juli dan kini merosot hampir 40 persen sejak awal tahun. JP Morgan bahkan memperingatkan risiko dikeluarkannya saham tersebut dari indeks MSCI, yang dapat memicu aksi jual otomatis oleh dana-dana indeks. Di Jepang, perusahaan Metaplanet juga terpukul, jatuh sekitar 80 persen sejak puncaknya pada Juni.
Beberapa analis mengingatkan bahwa koreksi besar bukan hal baru bagi Bitcoin. Pada 2018 dan 2022, Bitcoin sempat anjlok hingga 75–80 persen dari puncaknya. Jika pola ini kembali terulang, harga Bitcoin berpotensi merosot hingga sekitar 25.000 dolar AS, atau sekitar Rp400 juta. (*/rnc)



WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

