Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jakarta, RakyatNTT.ID – Harga Bitcoin kembali merosot tajam, menyentuh titik terendah dalam tujuh bulan pada Jumat, 21 November 2025. Mata uang kripto terbesar di dunia itu turun ke sekitar 80.553 dolar AS atau sekitar Rp1,28 miliar, memperpanjang tekanan di pasar aset digital.
Penurunan tersebut terjadi bersamaan dengan pelarian investor dari aset berisiko. Kekhawatiran terhadap valuasi saham teknologi yang dinilai terlalu tinggi serta ketidakpastian waktu pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat semakin mengguncang pasar global.
Aset kripto—sering dijadikan ukuran selera risiko investor—ikut terseret turun. Situasi diperburuk oleh insiden bulan lalu ketika aksi jual besar-besaran melikuidasi posisi lebih dari 19 miliar dolar AS dalam satu hari. Kini, keuntungan Bitcoin sejak awal tahun telah menguap; Bitcoin tercatat turun 12 persen sejak awal 2025, sementara Ether melemah hampir 19 persen.
Menurut analis pasar IG, Tony Sycamore, penurunan Bitcoin bisa menjadi sinyal memburuknya sentimen pasar global. “Jika ini mencerminkan sentimen risiko secara keseluruhan, keadaan bisa menjadi sangat, sangat buruk,” ujarnya mengutip Reuters, Sabtu, 22 November 2025.
Sejumlah analis kini menyoroti level 80.000–100.000 dolar AS, yang diyakini sebagai kisaran pembelian rata-rata investor institusional. Penurunan lebih dalam dapat memaksa institusi untuk menjual aset demi menekan kerugian yang lebih besar. Dalam enam minggu terakhir, nilai pasar kripto telah menyusut sekitar 1,2 triliun dolar AS, atau sekitar Rp19.200 triliun.
Tekanan besar dialami oleh crypto treasury companies, yaitu perusahaan yang menyimpan Bitcoin sebagai bagian dari neraca keuangan. Standard Chartered memperkirakan bahwa jika Bitcoin turun di bawah 90.000 dolar AS, setengah dari total kepemilikan kripto perusahaan-perusahaan tersebut akan berada dalam posisi merugi. Hal ini berpotensi memicu penjualan besar-besaran atau kebutuhan pendanaan tambahan, yang pada akhirnya semakin menekan harga Bitcoin. Saat ini, perusahaan publik tercatat memegang sekitar 4 persen dari total Bitcoin dan 3,1 persen Ether yang beredar.
Tekanan harga Bitcoin juga merembet ke saham perusahaan-perusahaan besar yang selama ini agresif mengoleksi kripto. Saham Strategy telah anjlok 61 persen dari puncaknya di Juli dan kini merosot hampir 40 persen sejak awal tahun. JP Morgan bahkan memperingatkan risiko dikeluarkannya saham tersebut dari indeks MSCI, yang dapat memicu aksi jual otomatis oleh dana-dana indeks. Di Jepang, perusahaan Metaplanet juga terpukul, jatuh sekitar 80 persen sejak puncaknya pada Juni.
Beberapa analis mengingatkan bahwa koreksi besar bukan hal baru bagi Bitcoin. Pada 2018 dan 2022, Bitcoin sempat anjlok hingga 75–80 persen dari puncaknya. Jika pola ini kembali terulang, harga Bitcoin berpotensi merosot hingga sekitar 25.000 dolar AS, atau sekitar Rp400 juta. (*/rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

