Hainan, RakyatNTT.ID – Nama Nusa Tenggara Timur kembali menggema di panggung internasional setelah Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO) NTT, Jeme Hungga Matalu, menjadi salah satu panelis dalam ajang bergengsi Tropical Coastal – Healthy Future: Innovation and Practice of Global Wellness Tourism Destinations yang digelar pekan lalu, Kamis (20/11/2025) di Sanya, Hainan, China.

Hadir dalam forum yang mempertemukan para pemimpin industri pariwisata dari berbagai negara, Jeme tampil percaya diri mewakili Indonesia, khususnya Provinsi NTT, dalam membahas arah masa depan wellness tourism dunia.

Pada sesi panel bertema Global Wellness Tourism Destinations, Jeme memaparkan bahwa NTT memiliki kekuatan alam, budaya, dan kearifan lokal yang secara alami selaras dengan tren pariwisata berbasis kesehatan dan ketenangan pikiran.

Iklan

“NTT bukan hanya indah. Ia adalah destinasi yang memiliki ritme hidup yang lebih pelan, ruang yang luas, serta budaya yang menenangkan jiwa. Ini yang dicari wisatawan wellness,” ujar Jeme di hadapan peserta forum internasional tersebut, dilansir dari rilis yang diterima media ini, Senin (24/12025).

Pertahankan Kearifan Lokal, Hindari Komersialisasi Berlebihan

Salah satu poin yang mendapat perhatian besar adalah pandangan Jeme mengenai integrasi kearifan lokal dalam wellness tourism. Ia menekankan pentingnya menjaga keaslian budaya sambil tetap memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.

“Kami ingin wisata wellness di NTT berkembang tanpa menjadi komoditas yang kehilangan jiwa. Ritual, herbal, tarian, dan penyembuhan tradisional tetap harus otentik dan melibatkan masyarakat secara langsung,” tegasnya.

Menurutnya, kekuatan NTT terletak pada pengalaman yang jujur dan menghubungkan manusia dengan alam, bukan sekadar spa modern atau fasilitas mewah.

Ketua ASTINDO NTT, Jeme Hungga Matalu

Akses Terbatas Memang Tantangan, Tapi Jadi Daya Tarik

Ketika panel membahas tantangan akses menuju destinasi wellness yang berada di lokasi alam terbuka dan terpencil, Jeme menjelaskan bahwa kondisi geografis NTT adalah tantangan sekaligus peluang.

“Benar, akses di beberapa wilayah NTT masih terbatas. Namun justru ini alasan mengapa wisatawan global mencari NTT yakni ketenangan, ruang alam luas, dan minim distraksi,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan berbagai inovasi yang mulai dikembangkan, seperti rute wisata baru, kolaborasi dengan pemerintah daerah, serta peningkatan fasilitas berbasis komunitas yang menjaga kelestarian lingkungan.

Teknologi Penting, Tapi Tidak Boleh Hilangkan Identitas

Dalam diskusi mengenai digital wellness, Jeme menekankan bahwa teknologi perlu digunakan secara bijak. Teknologi, kata dia, penting untuk informasi, reservasi, dan pengalaman pendukung. Tapi wellness sejati tetap harus kembali pada alam dan budaya.

“Kita tidak boleh kehilangan akar budaya NTT,” ujarnya.

Menurutnya, NTT siap memanfaatkan teknologi untuk promosi, edukasi wisatawan, dan monitoring destinasi, namun esensi pengalaman tetap harus alami dan manusiawi.

NTT Siap Jadi Destinasi Wellness Dunia

Kehadiran Jeme di forum internasional ini mendapat apresiasi tinggi dari peserta kegiatan. Ia dinilai berhasil membawa perspektif baru tentang bagaimana daerah berkembang seperti NTT mampu tampil sebagai pemain kunci di industri wellness tourism global.

Jeme menutup sesi dengan optimisme bahwa NTT sudah punya semuanya: alam, budaya, nilai spiritual, dan masyarakat yang ramah.

“Yang kami perjuangkan adalah mengangkatnya ke level dunia dengan tetap menjaga identitas dan keberlanjutannya.”

Acara di Sanya tersebut menjadi momentum penting untuk memperkenalkan potensi wellness tourism NTT kepada dunia, dan menegaskan peran ASTINDO NTT dalam memajukan pariwisata Indonesia di panggung internasional. (*/rnc)