Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Namun, konteks di daerah kita tentu berbeda. Di Nusa Tenggara Timur, minuman keras lokal seperti sopi, moke, dan peci telah lama menjadi bagian dari budaya. Awalnya digunakan untuk keperluan adat, tetapi kini juga digunakan untuk berbagai tujuan seperti menghangatkan badan, melepas lelah, atau sekadar bersosialisasi.
Penelitian Naben (2023) menegaskan hal ini. Ia menulis bahwa “the culture of drinking sopi by the people of NTT is used in traditional events,” yang menunjukkan bahwa sopi adalah bagian dari mekanisme sosial yang menghubungkan individu dengan komunitas yang menunjukan sebuah simbol keterikatan sosial, bukan sekadar alkohol.
Meski demikian, sebagian orang tetap menolak miras dengan alasan dampaknya yang fatal. Mereka berpendapat bahwa minuman keras merusak generasi muda. Menurut saya, mabuk seperti itu tidak boleh dikaitkan langsung dengan miras. Pertanyaannya bukan “mengapa anak-anak minum?”, tetapi “mengapa anak-anak tidak dididik untuk mengendalikan diri?” Jawabannya terletak pada orang tua dan masyarakat sekitar.
Penelitian Hasanah, Kiling, & Limbu (2024) menunjukkan bahwa persepsi remaja terhadap miras sangat dipengaruhi oleh lingkungan, status sosial, dan pengalaman pribadi. Tekanan teman sebaya mendorong konsumsi miras, sementara perhatian orang tua menurunkan risikonya.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

