Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Di Anda Luri, Saya masih mengingat jelas wajah para guru yang menjadi bagian dari perjalanan itu. Ada Pak Agustinus Dapa Loka, guru Bahasa Indonesia yang terkenal galak, namun sesungguhnya berhati lembut. Setiap kalimat yang salah bisa berbuah teguran keras, tapi di balik ketegasannya ada nilai agar kami menjadi lulusan yang unggul dan tidak memalukan bagi almamater.
Ada juga Pak John Takanjanji, sosok yang begitu dekat dengan para murid. Tegas, tapi selalu hadir dengan senyum dan sapaan yang membuat kami merasa dihargai. Kata Wuanya, yang popular pada pilkada di Sumba Timur justru lahir dari guru yang menamakan dirinya sebagai Wuya Rara, secara harafiah artinya Buaya Merah.
Ada juga kejadian-kejadian lucu ketika murid laki-laki diberi sebungkus rokok Surya 12 ketika kegiatan ekstrakurikuler pada sore hari. Sungguh membuat lutut gemetar kawan angkatan saya, Rafael Miku Bediona yang saat ini menjadi Polisi Lalu Lintas di Lembata.
Dan tentu saja, ada Pak Agus Tipa, guru Matematika yang jarang bicara, tapi terkenal dengan rotannya. Rotan itu seperti legenda bisa bergerak sendiri ketika ada siswa yang terlalu santai menghadapi angka-angka. Kami takut tapi juga segan, karena di balik diamnya, beliau ingin kami memahami bahwa ketekunan adalah kunci dari logika dan disiplin hidup. ‘Gurih” nya rotan ini pernah dirasakan oleh Fransiska Sabatudung asal Sumba Tengah yang saat ini meniti karir di lingkup pemerintah kabupaten Sumba Barat. Tak hanya Fransiska, saya dan yang lainnya pernah merasakan rotan itu.
