Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Bagi keluarga, bisa bersekolah di Andaluri bukan sekadar soal melanjutkan pendidikan tapi itu sebuah prestise. Sekolah yang unggul, disiplin dan kurikulum yang mengarahkan pada pembentukan kognitif dan budi pekerti setiap lulusan. Sekolah ini adalah mercusuar tempat kami menimba ilmu dan karakter. Dalam Mars Anda Luri disebut sebagai “oase dingin di Pulau Sumba,” dan begitulah kami merasakannya, tempat teduh di mana semangat, kedisiplinan, dan kasih berpadu membentuk pribadi.
Saat itu saya tinggal di Asrama Seminari Padadita, yang dikelola oleh para imam Kongregasi Redemptoris (CSsR), kongregasi yang sama yang dulu mendirikan sekolah ini. Hidup di asrama berarti hidup dalam ritme disiplin, bangun pagi, misa pagi, belajar, makanan yang layak, doa malam dan istirahat bersama. Tapi di sela rutinitas itu, ada kebersamaan yang hangat, tawa di sela kesulitan, dan mimpi-mimpi besar yang tumbuh diam-diam.
Anak anak Asrama Seminari Pewarta Injil (API) Padadita merupakan subsistem penopang utama dari keunggulan Andaluri. Saya masuk Padadita dengan cita-cita menjadi seorang imam Katolik dari konggregasi CSsR. Abang saya yang saat ini di Jogja juga nyaris menjadi Imam dari konggregasi ini.
Saya juga sama, hanya tidak nyaris. Juga latar belakang keluarga dari Kabihu Kadumbul mayoritas bersekolah di Andaluri. Cita cita saya bulat dan tidak bisa ditawar-tawar harus jadi imam. Eh ternyata tidak lolos. Saya mengubah cita cita itu menjadi wartawan setelah membaca karya Remy Silado, sastrawan dan wartawan yang juga memiliki mimpi yang sama tentang kaum jubah putih.
