Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Keterbatasan air bersih memperburuk situasi. Menurut data Kementerian PUPR (2024), hanya sekitar 62 persen rumah tangga di NTT yang memiliki akses terhadap sumber air layak. Di daerah-daerah seperti Ende dan Lembata, banyak keluarga masih mengandalkan air hujan atau sumber tak terlindungi. Padahal, sanitasi yang buruk menjadi pintu masuk bagi penyakit infeksi yang memperburuk status gizi anak.

Kondisi ini menciptakan lingkaran setan: kekeringan → akses air terbatas → sanitasi buruk → infeksi → gizi rendah → stunting.
Krisis ini bukan semata biologis, melainkan sosial dan ekologis. Di beberapa wilayah, ekspansi perkebunan dan pertambangan juga mempersempit ruang hidup warga dan sumber air. Warga di Kabupaten Manggarai Barat misalnya, mengeluh tentang mata air yang kian berkurang akibat alih fungsi lahan.
Program Banyak, Dampak Terbatas
NTT menjadi laboratorium kebijakan gizi nasional. Hampir setiap kementerian punya proyek di sini: Kemenkes dengan Program Gizi Seimbang, BKKBN dengan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat), hingga Kemendes dengan Desa Konvergensi Stunting. Namun, tumpang tindih kebijakan dan lemahnya koordinasi membuat banyak program berhenti di papan nama.
Banyak kegiatan hanya berfokus pada distribusi bantuan pangan tanpa memperhatikan keberlanjutan. Di beberapa desa di Kabupaten Ngada dan Sikka, misalnya, program bantuan telur dan susu hanya berjalan beberapa bulan karena logistik dan anggaran yang tersendat. Akibatnya, intervensi gizi berhenti sebelum dampaknya terasa.



WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

